PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya– Promosi sadar gizi tidak semudah membalik telapak tangan. Apalagi masyarakat di wilayah pelosok yang kental dengan budaya leluhur.

Persoalan itulah yang mengilhami munculnya konsep Bidan Lewu di Provinsi Kalimantan Tengah.

“Sosialisi atau promosi tidak mudah, membujuk warga untuk sadar gizi itu sulit, harus melalui ilustrasi dan pendekatan. Salah satunya dengan adat atau budaya lokal setempat, memberi pengertian pelan-pelan, ya seperti Bidan Lewu di Kalteng ini,” ungkap Direktur Gizi Masyarakat Kemenkes Doddy Izwardy saat berada di Kota Palangka Raya, Rabu (31/1/2018).

Penjelasan itu disampaikan Doddy saat membuka sekaligus memberikan pemaparan awal pada Workshop Diseminasi Hasil Pengembangan Alat dan Pelatihan untuk Proyek Bidan Lewu, yang dihadiri 15 Bidan Lewu yang sudah terbentuk.

Ia menekankan, workshop kali ini diharapkan menjadi kesempatan untuk berbagi pengalaman dalam pengembangan media dan pelibatan Bidan Lewu dalam promosi gizi pada ibu hamil dan keluarga.

--page

Dalam workshop itu juga akan diseminasikan beberapa alat bantu untuk kampanye Bidan Lewu. Selain itu, diharapkan dapat membangun kerja sama dan komitmen pemangku kepentingan untuk penyebaran alat komunikasi Bidan Lewu.

“Kegiatan ini akan melibatkan banyak pihak seperti Kemenkes, Kemendesa, pemerintah kabupaten khususnya beberapa dinas terkait, karena memang harus dikerjakan multipihak,” sebutnya. (ROZIQIN/B-3)