BORNEONEWS, Sampit - Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur Roy Lumban Gaol mendorong masyarakat mengelola lahan kosong, terutama yang sudah terbakar.
Salah satunya dengan menanam tanaman yang memiliki nilai ekonomis. Hal itu sebagai bentuk dan upaya mengembalikan lahan kritis untuk menjadi kawasan resapan. Apalagi, saat ini sisa hutan di Kotim sudah kian memprihatinkan.
"Hutan cadangan kita kian menipis. Karenanya perlu adanya sikap dan kebijakan untuk mereboisasi lahan kritis yang tersisa," kata Roy, Rabu (7/2/2018).
Ia menyebutkan, kondisi hutan saat ini terbagi menjadi dua. Yakni hutan asli dan hutan kritis. Hutan kritis ini yang harus ditanami masyarakat dengan difasilitasi oleh Pemkab Kotim.
Roy mengaku prihatin kondisi hutan yang jadi andalan resapan air kini banyak punah. Bila dibiarkan bisa menyebabkan Kotim mudah dilanda bencana banjir, baik di daerah pedalaman maupun perkotaan.
--page
Ia menyebutkan, gencarnya investor menanamkan modal dalam dua dekade terakhir berimbas pada tergerusnya kawasan hutan.
Bahkan, Kabupaten Kotim yang memiliki luas wilayah 16.496 km persegi dan dihuni 400.658 jiwa, terancam tidak memiliki hutan cadangan. Sebab yang tersisa hanya 25% dari total luas hutan sebelumnya.
Dikatakan Roy, data kehutanan mencatat, secara persentase sisa hutan di Kotim hanya sekitar 25%. Itupun 10% berupa kawasan hutan yang tidak ada pohonnya alias lahan kritis.
Idealnya kawasan hutan yang tersisa minimal 40%. Sedangkan 60% lainnya digunakan untuk kawasan investasi kehutanan dan perkebunan, termasuk juga permukiman. (NACO/B-3)








