SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Wakil Ketua DPRD Kotawaringin Timur, H Supriadi berharap tahun ini Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) bisa meminimalisir titik api dengan melakukan langkah antisipasi yang melibatkan semua pihak.

"Instansi terkait harus membuka sinergitas di semua lini. Harapan kita tidak banyak lagi hotspot penyebab kebakaran lahan muncul di tahun ini," kata Supriadi saat dihubungi Borneonews, Minggu (11/2/2018).

Ia melanjutkan Pemkab Kotim bersama dengan satgas kebakaran lahan harus punya misi dan pemahaman yang sama dalam penanggulangan kebakaran, agar masyarakat Kotim tidak dihantui dengan musibah asap setiap tahunnya.

Supriadi menyebut dengan melibatkan masyarakat dan berbagai aktivis lingkungan serta perusahaan besar swasta sebagai upaya penanggulan yang perlu dilakukan.

--page

Bahkan, kata dia, sebelum memasuki musim kemarau hendaknya mana saja yang menjadi titik rawan terbakar sudah disiagakan alat pemadam kebakaran dan fasilitas lainnya.

"Terutama seperti sumber air hendaknya dipersiapkan dengan baik. Tidak jarang pemadaman terkendala sumber airnya yang tidak ada, atau lokasi air jauh dari tempat kebakaran," ucapnya.

Menurut Supriadi, kebakaran hutan dan lahan yang terjadi bukan lagi disebabkan oleh masyarakat yang bercocok tanam. Masyarakat sudah tahu dan tidak laigi main-main, karena sanksi pidananya, bahkan di sisi lain penegak hukum dan pemkab sudah gencar melakukan sosialisasi.

"Yang perlu kita antisipasi itu munculnya oknum yang dimanfaatkan pemodal untuk membakar lahan dengan tujuan memudahkan aktivitas mereka kedepannya, karena kebakaran sering kali terjadi di lahan perusahaan," kata Supriadi.

Supriadi mengingatkan juga agar pembentukan satgas atau relawan di setiap  desa atau perkampungan harus dilakukan. Untuk pembiayaan satgas itu bisa saja bersumber dari  dana desa. Dari itu ia mendorong setiap desa punya relawan kebakaran sehingga tidak semata-mata mengharapkan Satgas dari Kabupaten.(NACO/B-8)