BORNEONEWS, Sampit - Pengguna media sosial (Medsos) ramai-ramai menolak acara Color Run, yang akan digelar di sela kegiatan Sampit Expo 2018.
Memang, Pemkab Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) akan menggelar Sampit Expo pada 3-11 Maret 2018.
Panitia juga menyelipkan kegiatan anak muda yakni Color Run, untuk memeriahkan hal tersebut.
Namun, adanya Color Run dalam Sampit Expo ternyata mengundang perbincangan bahkan penolakan bagi sebagian pengguna jejaring sosial facebook.
Mereka beranggapan kegiatan itu merupakan budaya Barat, bukan orang Sampit atau Kotim.
--page
Seperti pada akun Abdi Samba yang mengunggah foto kegiatan tersebut bersama dengan komentar yakni, "Color artinya warna, sedangkan Run artinya lari, warna lari. Berapa sambil lari sambil menyiramkan warna ke badan. Sepertinya ini acara baru lagi, dan tidak pernah ada di expo. Kalau dilihat dari gambar, nampaknya laki-laki dan perempuan saling siram dan juga mengusapkan warna ke badan, atau sudah diwarnai dari rumah. Tolong bagi yang tau jelaskan.
Adanya status tersebut, ternyata menarik perhatian pengguna lainnya. Bahkan saat ini sudah mencapai 171 lebih komentar dan 12 kali dibagikan, serta 75 orang menyukai.
Dalam komentar di dalam status tersebut sangat banyak, dan rata-rata tidak ada yang mendukung, namun malah menolak. Karena sudah keluar dari norma agama islam.
Seperti yang dikatakan pada akun @Eddy sabaru, "Sampit Expo idealnya dikemas dengan budaya. Karena bagian dari rangkaian HUT Kotim. Bukan impor budaya asing."
--page
Kegiatan tersebut juga dianggap kurang mendidik, apalagi dalam sebulan terakhir ini sudah ada dua orang ulama yang datang untuk memberikan tausiah kepad seluruh masyarakat. Sehingga dianggap sia-sia kalau sampai hal tersebut benar dilaksanakan. Hal itu banyak diungkapkan, seperti akun @Zainuri AO, "Habis bezikir dan sholawat pada 20 Februari 2018 ini, kenapa diadakan lagi budaya yg tidak mendidik. Handak jadi apa kita??."
Bahkan komentar dari @Darul Aminsampit, "Kada perlu di perjelas lagi hukumnya haram. Jadi tolong bagi yang memiliki anak, larang anak mengikuti kegiatan tersebut."
Tidak hanya itu ada juga yang berkomentar yakni akun @Bintang Jaya, "Nah mun sudah di bilang oleh ustadz haram. Batalkan saja wahai pemda (pemerintah daerah. Jangn seperti tidak mendengar di bilangin ustadz. Kalau kata orang Banjar bongol jangn di lambak."
--page
Bahkan anggota DPRD Kotim juga ikut berkomentar di medsos tersebut @Dadang H Syamsu, "Dalam translate inggris-indonesia expo = pameran. Sedangkan dalam wikipedia pameran = suatu kegiatan penyajian karya seni rupa untuk dikomunikasikan, sehingga dapat diapresiasi oleh masyarakat luas. Monggo ditafsirkan, kalau pendapat pribadi tentu tidak sependapat. Karena tak ada korelasi serta, tak ada edukasi yg disampaikan kepada masyarakat luas."
Adanya penolakan tersebut, karena mereka beranggapan kegiatan itu hanya sia-sia, dan lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya.
Karena semua antara laki-laki dan perempuan berkumpul jadi satu dan saling melemparkan bubuk warna. Bahkan mereka berjoget bersama hingga hal itu sudah menyalahi hukum islam.
Para pengguna jejaring sosial berharap agar kegiatan tersebut dikatakan. Karena sudah tidak sesuai dengan norma agama. (MUHAMMAD HAMIM/B-5)








