SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Sedikitnya masih ada 54 desa di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) yang belum teraliri listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN). Sehingga banyak desa yang tidak bisa berkembang pesat. 

"Ada 54 desa di daerah ini yang belum teraliri listrik, dan hal itu masih menjadi perhatian kami," ujar Wakil Bupati Kotim Taufiq Mukri, Kamis (15/2/2018). 

Dari 54 desa tersebut, masih diupayakan agar semuanya bisa dialiri listrik. Bahkan untuk 39 desa telah diusulkan ke pihak PT PLN 17 desa juga telah di survei dan sudah masuk dalam tahap pengolahan data. Sedangkan delapan desa lainnya maaih belim dilakukan survei. 

Dengan adanya delapan desa tersebut, maka pimpinan daerah ini meminta kepada Sekretaris Daerah Halikinnor guna memerintahkan kepada bagian ekonomi Sekretariat Daerah (Setda) dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA), untuk melanjutkan pendataan pada 2018 ini, agar selanjutnya diusulkan kepada pihak PT PLN agar bisa diakomodir. 

--page

"Mudah-mudahan pada 2018 hingga 2019 ini, sebagian desa tersebut atau bahkan semua desa sudah bisa dialiri listrik," kata Taufiq. 

Aliran listrik memang sudah menjadi kebutuhan sehari-hari bagi masyarakat. Karena banyak perabotan rumah ataupun barang yang digunakan oleh masyarakat berhubungan langsung dengan listrik. Tidak hanya lampu saja, namun juga banyak barang elektronik yang menjadi teman ataupun benda untuk kebutuhan warga dapat digunakan kalau hanya ada aliran listrik saja. 

Dengan tidak adanya aliran listrik tersebut juga, maka banyak masyarakat pedesaan yang tidak memiliki telepon genggam, walaupun mereka tergolong mampu untuk membeli benda tersebut. Sehingga untuk informasipun akan susuah diakses.  

"Hal itulah yang menjadi perhatian kami, karena kami tidak inginlagi ada desa tertinggal di Kotim ini, dan mudah-mudahan itu terwujud sebelum masa jabatan kami berakhir," ungkap Taufiq. (MUHAMMAD HAMIM/B-5)