PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya- 16 tahun sudah Seth menjadi tenaga pendidik di SDN 1 Danau Tundai. Waktu yang tidak singkat. Apalagi sekolah tempatnya mengajar terletak di daerah terpencil.

Untuk bisa sampai ke sekolah, guru yang tinggal di Jalan Batu Hurun, Kota Palangka Raya, ini harus menggunakan armada air.

"Kalau air dalam (musim hujan), itu paling lama setengah jam baru sampai. Tapi kalau surut (kemarau) bisa sampai satu jam karena harus mutar," kata Seth, Kamis (15/2/2018).

Segudang pengalaman dialami Seth yang saat ini menjabat sebagai wakil kepala sekolah, selama memberikan ilmu kepada anak didiknya.

"Di sini gurunya ada sembilan termasuk kepala sekolah Bapak Mahmud. Mayoritas dari Kota Palangka Raya," ucapnya.

--page

Demi menyiasati keberangkatan, para guru membuat kesepakatan bersama agar setiap pukul 06.00 WIB sudah berada di Pelabuhan Tanjung Pinang. Ini dilakukan supaya bisa berangkat bersama-sama. Begitu juga pada saat mereka pulang.

Pengabdian mereka tentu tidak mudah. Butuh keikhlasan, kesabaran, ketekunan, dan kedisiplinan demi memberikan ilmu kepada generasi penerus bangsa.

Lantas, apa motivasi mereka mengajar di daerah pelosok ketimbang di kediaman mereka yang mayoritas berada di Kota Palangka Raya?

"Saya sudah 16 tahun mengajar di sini. Ada senior saya dari Bareng Bengkel yang sampai 20 tahun. Motivasi saya hanya ingin membantu warga di sini supaya mereka bisa mengenyam pendidikan," ungkapnya.

Guru lainnya yang berasal dari Palangka Raya adalah Ismail Marzuki. Guru olahraga ini mengatakan, mengajar di daerah terpencil harus dilakukan penuh keikhlasan.

--page

Warga Jalan Soekarno III, Palangka Raya, ini menuturkan, SDN 1 Danau Tundai memiliki 36 murid yang tergabung dari kelas 1-6. Sekolah itu terletak gandeng dengan SMPN Satu Atap 7.

Muridnya ada yang berasal dari Sungai Pinang dan Bareng Bengkel. Untuk bisa sampai ke sekolah, murid juga menggunakan armada air.  (BUDI YULIANTO/B-3)