BORNEONEWS, Sampit - Upaya Pemkab Kotawaringin Timur (Kotim) mematenkan Ikon Jelawat sebagai maskot di Kotim tidak mudah. Sebab, disinergikan dengan hasil pengembangan ikan jelawat oleh masyarakat yang masih belum maksimal.
Bahkan, tidak sedikit juga yang gagal membudidayakannya.
"Sejauh ini kami melihat langkah untuk menghasilkan ikan jelawat itu ternyata tak kunjung berhasil," kata Wakil Ketua DPRD Kotim Supriadi, Minggu (18/2/2018).
Menurut Supriadi, ikon jelawat selama ini hanya sekadar ikon yang belum ditunjangi dengan budidaya ikannya.
Mestinya budidaya itu harus digenjot dan maksimal. Karena percuma ada ikon tapi ikannya sulit ditemukan.
--page
Lanjut Supriadi, pembangunan ikon jelawat yang dilanjutkan lagi dengan anggaran sekitar Rp36 miliar di tahun ini merupakan langkah yang tidak tepat.
Sebab, pemberdayaannya tidak berjalan dengan maksimal. "Seharusnya pemerintah gencar membudidayakannya sehingga ikan jelawat pada akhirnya melimpah ditemui di Kotim. Sekarang masyarakat memilih ternak ikan yang lain. Selain jelawat ini tergolong ikan yang cerewet juga harus memerlukan biaya tidak sedikit untuk biaya membudidayakannya," tegasnya.
Sedangkan Pemkab Kotim menurut Supriadi masih seadanya saja memberdayakan masyarakat untuk mengembangkan jelawat, alhasil jauh dari apa yang diharapkan.
"Memang sejak awal saya menolak pembangunan ikon jelawat dengan anggaran yang tidak sedikit itu," tegasnya.
Di pembangunan tahap kedua ini sedikitnya Rp 36 miliar yang akan dikucurkan selama 3 tahun berturut-turut.
--page
Rencananya ikon itu akan dibangun lagi, untuk aquarium raksasa beserta dengan menara pandang setinggi 24 meter. Hal ini diharapkan menjadi daya pikat kota Sampit untuk menarik wisatawan dari luar daerah. (NACO/B-5)








