BORNEONEWS, Kasongan - Anggota DPRD Kabupaten Katingan, Karyadi mengaku jika dirinya cukup prihatin dengan para pemilik atau petani rotan di daerahnya.
Pasalnya, sudah sekitar empat tahun terakhir harga rotan asalan/mentah ditingkat petani masih dihargai sangat murah.
Padahal, sebagian besar masyarakat Kabupaten Katingan hidup mengandalkan rotan dan sebagian lainnya karet.
"Dulu saat pemerintah masih membolehkan ekspor rotan mentah ini para petani di wilayah Kabupaten Katingan hidup berkecukupan, namun setelah pemerintah menutup kran ekspor rotan mentah ini," kata Karyadi, Kamis (22/2/2018).
"Lambat laun warga terutama di kalangan bawah yang hidup mengandalkan hasil bumi seperti rodan itu hidup serba kekurangan, karena harga rotan asalan itu dihargai pengepul sangat murah," imbuhnya.
--page
Menurutnya, lebih separo penduduk di Kabupaten Katingan memiliki kebun atau tanaman rotan.
"Rotan sudah ada sejak zaman nenek moyang dulu, dan sejauh ini mambu meningkatkan taraf hidup masyarakat. Akan tetapi sejak pemerintah menutup kran elspor rotan mentah menyebabkan pemilik atau petani rotan jadi kesulitan," katanya.
Karyadi menggambarkan, saat ini rotan asalan/mentah itu ditingkat petani hanya dihargai pengepul sekitar Rp50 ribu per kwintal.
"Ya idealnya sekarang ini rotan mentah sepikul (satu kwintal) dihargai Rp150 ribu," tegasnya.
Untuk itu Karyadi berharap pemerintah pusat membuka kembali kran ekspor rotan mentah ini. (ABDUL GOFUR/B-6)








