BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Meskipun satelit pemantau hotspot atau titik panas tidak lagi menunjukkan bahwa terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jalan Pangkalan Bun - Kotawaringin Lama (Kolam), Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), namun hal itu bukan berarti api yang berada di lahan yang sempat terbakar itu mati total.
Menurut Kepala Manggala Agni Daops III Pangkalan Bun Binsar Oktavianus Togatorop, bisa saja dibagian bawah atau dalam lapisan gambut di lahan yang sempat terbakar tersebut masih menyimpan bara api.
"Karena ada tiga tipe karhutla yaitu kebakaran atas, kebakaran permukaan dan kebakaran bawah atau gambut. Nah tipe kebakaran yang terjadi di km 10 hingga 14 dan km 32 Jalan Pangkalan Bun Kolam yaitu kebakaran bawah," jelas Binsar saat ditemui Borneonews di lokasi Karhutla Jalan Pangkalan Bun-Kolam, Jumat (23/2/2018).
Sehingga, lanjutnya, walaupun kemarin lokasi yang terbakar terlihat padam secara kasat mata dan tidak terpantau hotspot, namun perlu dipastikan kembali apakah ada bara apo dibagian bawah tanah gambut tersebut.
"Karena itulah kami menggelar mapping atau pemeriksaan kembali untuk memastikan apakah api dalam gambut telah padam atau tidak," jelasnya.
Kemudian, lanjut Binsar, terdapat beberapa wilayah yang harus diwaspadai terjadi karhutla. "Daerah yang dianggap rawan di Kabupaten Kobar adalah jalur Jalan Pangkalan Bun - Kolam lantaran struktur tanahnya terdiri dari gambut. Kemudian wilayah pesisir seperti Desa Kubu, Desa Sungai Bakau, Desa Keraya hingga Desa Sebuai. Lantaran bila terjadi karhutla diwilayah tersebut asapnya berhembus kearah dalam kota Pangkalan Bun," jelas Binsar. (WAHYU KRIDA/B-8)








