JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Impor minyak sawit (CPO) China kemungkinan turun pada 2017/2018 seiring dengan meningkatnya pembelian minyak kedelai di negeri itu. 

China, yang mengapalkan lebih dari 60 persen kedelai di pasar global, melakukan pembelian dalam jumlah terbesar pada 2017 berkat tingginya permintaan terhadap pakan ternak berbasis kedelai.

“Permintaan China akan minyak edibel tidak tumbuh secepat permintaan terhadap makanan, sehingga pasokan kedelai melimpah," kata analis kawakan, MR Chandran. menurut dia, China sekarang membeli lebih banyak kedelai dan permintaan itu utamanya didorong oleh meningkatnya konsumsi pakan ternak berbasis kedelai. 

Sedangkan impor kedelai China pada 2017 menyentuh level tertinggi sepanjang masa di angka 95,54 juta ton, naik 13,9 persen dibandingkan tahun lalu sebesar 83,91 juta ton.

Untuk impor minyak sawit oleh China pada 2017/18 diperkirakan turun menjadi 4,8 juta ton, dibandingkan 4,881 juta ton pada tahun sebelumnya.

--page

Sementara itu, harga minyak sawit berjangka di Bursa Malaysia Derivative Exchange menguat sekitar 2 persen pada Februari setelah melemah dalam tiga bulan terakhir.

Adapun stok minyak sawit di China sekarang sekitar 600.000 ton, dan juga diperkirakan akan menekan permintaan, ujar David Ng, analis di Phillip Futures, Kuala Lumpur, seperti dilansir The Malay Mail.

“Stok minyak sawit China saat ini berada di atas perkiraan pasar dan juga melebihi level cadangan rata-rata. Dan ingat bahwa permintaan China untuk kedelai akan terus meningkat tahun ini, sehingga akan memberikan tekanan terhadap harga minyak sawit,” ujarnya. (NEDELYA RAMADHANI/m)