BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah, Rawin Rambang menyatakan hingga saat ini sektor perkebunan masih menjadi sektor andalan di Kalimantan Tengah.
“Saat ini dua komoditas utama yang menjadi unggulan adalah sawit dan Karet” ungkapnya pada acara Dialog Interaktif Kalimantan Tengah Menyapa, di Studio RRI Palangkaraya, Selasa (6/3/2018).
Menurutnya, komoditas sawit di Kalimantan Tengah berperan cukup signifikan dalam menopang industri sawit nasional. Hal tersebut dibuktikan melalui data total produksi CPO Kalimantan Tengah yang mencapai 4.500 juta dan berada di posisi ketiga nasional setelah Riau dan Sumatera Utara.
“Di tingkat regional, dampak kemajuan industri kelapa sawit sudah sangat dirasakan oleh masyarakat. Industri ini tercatat telah menyerap tidak kurang dari 400 ribu tenaga kerja, baik langsung maupun tidak langsung, yang secara signifikan berdampak pada perkembangan perekonomian daerah di Kalteng,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut diaminkan oleh Koordinator Perwakilan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Tenera, Sugiyarno. Menurutnya, sebelum terjun ke perkebunan kelapa sawit ia tergolong pada kelompok petani berpenghasilan rendah.
--page
“Pada 1985 saya memutuskan untuk serius menekuni bisnis kelapa sawit ini. Kemudian saya mengajak masyarakat sekitar untuk mendirikan kelompok tani, yang kami beri nama Tenera,” jelasnya.
Bagi Sugiyarno, selain keterlibatan masyarakat lokal dalam mebangun perkebunan rakyat di Pundu, Katingan, salah satu kunci suksesnya adalah bagaimana ia berserta petani lain menerapkan pola kemitraan dengan asosiasi pengusaha di Kalteng.
“Banyak program, salah satunya adalah melalui penyediaan bibit unggul yang berkualitas bagi petani mitra,” imbuhnya.
Ia menyadari bahwa ketersediaan bibit yang baik akan sangat menentukan keberhasilan kelapa sawit. Permasalah bahwa petani sawit kini sudah memiliki penghasilan cukup. Ke depan ia berharap melalui ketersediaan bibit unggul petani bisa memiliki daya saing tidak hanya di lingkup lokal namun juga di tataran global.
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris jenderal GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) Kalteng, Halin Ardi menyatakan bahwa masyarakat yang telah bergabung menjadi mitra dapat memperoleh bibit unggul hasil riset anggota GAPKI Kalteng.
--page
“Salah satu program kemitraan yang kami inisiasi adalah penyediaan bibit unggul bagi petani mitra” ungkapnya.
Program kemitraan juga bisa meliputi penyediaan pupuk, sarana dan prasana angkut, konsultasi dan pendampingan, dll. Program kemitraan ditujukan untuk meningkatkan daya saing terutama bagi kebun rakyat di masa mendatang.
Untuk itu, GAPKI berkomitmen menjalankan praktik bisnis yang berlanjutan sebagaimana yang tertuang dalam kebijakan sawit berkelanjutan (ISPO/ Indonesian Sustainable Palm Oil).
“Kita sudah punya ISPO untuk memastikan bisnis sawit kita berkelanjutan, dan kami berkomitmen penuh untuk menjalankan nilai-nilai yang ada di dalamnya,” jeas Halin.
Menanggapi isu yang sering dikaitkan dengan kerusakan lingkungan sebagai dampak dari industri kelapa sawit, Pakar Ilmu Tanah Universitas Palangkaraya, Prof. Sulistiyanto menjelaskan bahwa dirinya sangat optimis bahwa induustri sawit ini bisa berlangsung dalam kurun waktu jangka panjang.
--page
“Perihal industri sawit yang dikatakan merusak kesuburan tanah, setelah habis usia ekonomis yang rata-rata berusia 25 tahun, kesuburan tanah tetap bisa dipertahankan, tentunya dengan berbagai upaya,” terangnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, bahwa stigma yang menyatakan bahwa kandungan CN rasio tinggi yang menyebabkan proses pembusukan pada pohon sawit cenderung berlangsung lebih lama, sehingga menimbulkan keraguan bahwa tanahnya tidak akan subur lagi.
Ia tetap yakin dengan dukungan teknologi seperti saat sekarang sangat memungkinkan untuk menemukan perkembangan positif yang dapat membantu mempercepat proses pembusukan tersebut.
“Disinilah peran serta pemerintah untuk melibatkan pihak akademisi, agar semua bahu membahu mencari solusi atas permasalahn tersebut,” pungkasnya. (RO)








