BORNEONEWS, Sampit - Penangkapan dua kapal pengangkut elpiji tiga kilogram dari Kota Sampit, menuju Pagatan, Kecamatan Katingan Kuala, Kabupaten Katingan, yang dilakukan Ditpolair Polda Kalteng ternyata berdampak terhadap warga Pagatan.
Imbasnya, kelangkaan terjadi di Pagatan. Sebab, selama ini warga di sana mengandalkan pasokan elpiji dari Sampit. Walau pun harga di sana sudah mencapai Rp30 ribu hingga Rp35 ribu per tabung.
Kapal pengangkut itu diamankan karena membawa elpiji bersubsidi dari Kotim. Dan tidak diperbolehkan dipasarkan ke kabupaten lainnya. Karena sudah ditentukan per regional atau daerah.
"Di sini sangat sulit mendapatkan LPG 3 kg, apalagi kalau sering dirazia aparat. Maka akan tambah sulit," ujar Saman (28), warga Katingan Kuala, Sabtu (10/3/2017).
Menurutnya, hingga kini tidak ada pangkalan elpiji di daerah tersebut. Sehingga untuk mendapatkan elpiji kebanyakan didatangkan dari Kotim yang bersegel merah. Itupun harganya sudah cukup tinggi.
--page
"Namun untuk harga tidak kami risaukan yang penting barangnya ada. Karena mau masak pakai minyak tanah, saat ini juga langka," kata Saman.
Sementara, salah satu penjual elpiji eceran yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan, terpaksa membeli di Kotim dan menjual kembali ke daerah Pagatan. Mereka berdalih tidak semata-mata mencari untung, tetapi utamanya untuk membantu kebutuhan masyarakat di sana.
"Bayangkan saja kalau tidak ada pengecer seperti kami ini, masyarakat dapat elpiji dari mana. Sedangkan itu merupakan kebutuhan sehari-hari," kata dia.
Dia menjelaskan tidak mengambil untung banyak dari penjualan tersebut. Karena membeli di Sampit untuk satu tabung 3 kg yakni Rp 24 ribu. Dan dijual disana Rp30 ribu hingga Rp35. Itu semua sudah termasuk biaya angkutan, dan juga terkadang bayar jatah kepada oknum aparat.
"Sudah sering kami kucing-kucingan dengan aparat, dan kalau ketahuan terpaksa kami kasih uang rokok," terangnya.
--page
Keadaan tersebut pun juga membuat mereka mencoba mengajukan membuat pangkalan di daerah tersebut ke Pertamina Kotim. Namun ditolak karena tidak masuk regional.
Sedangkan untuk mengajukan ke Kasongan, Kabupaten Katingan sangat jauh. Dan harus membutuhkan biaya besar.
"Harusnya ini menjadi perhatian pemerintah dan Pertamina untuk membantu mencari solusi. Bukan malah sebaliknya, justru membuat takut dan was-was saat melakukan pendistribusian ke wilayah terisolasi seperti di daerah Katingan Kuala tersebut," ucapnya.
Kecamatan Katingan Kuala memang cukup dekat dengan Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Sehingga banyak masyarakat disana yang memilih belanja ke daerah ini dibanding pergi ke Kasongan ibukota Kabupaten Katingan. (MUHAMMAD HAMIM/B-11)








