PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun- Mitos yang mengatakan mengonsumsi daging dan telur penyu baik untuk kesehatan, merupakan pemahaman yang salah selama ini.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Pangkalan Bun Agung Widodo, Senin (12/3/2018), mengatakan hal itu bukanlah sekedar propaganda agar tidak ada lagi masyarakat yang menangkap dan mengonsumsi daging dan  telur penyu. Namun hal ini berdasarkan penelitian para ahli.

"Selain itu sudah banyak kasus keracunan saat mengonsumsi daging dan telur penyu yang berakibat kematian orang yang mengonsumsinya.

Sebagai contoh, kasus di Desa Taileleu, Kecamatan Siberut Barat Daya, Pulau Mentawai, Sumatra Barat, sekitar Februari 2018 ini. Beberapa puluhan orang yang menyantap daging penyu dalam sebuah pesta adat keracunan bahkan ada yang meninggal dunia," sebut Agung.

Diperkirakan tercemarnya lautan yang merupakan wilayah perlintasan penyu keliling dunia menjadi penyebab keracunan warga.

--page

"Lantaran tubuh penyu lebih tahan terhadap racun bila dibandingkan dengan manusia. Namun tetap saja di dalam tubuh penyu racun tersebut mengendap dan ternyata berbahaya saat dikonsumsi manusia," jelasnya.

Menurut Agung, racun dan logam berat yang secara tidak sengaja terserap dalam tubuh penyu, lantaran satwa tersebut berada di kawasan yang tercemar, lama-lama terus meningkat.

"Karena usia hidup penyu yang panjang, bahkan mencapai ratusan tahun racun tersebut akan semakin meningkat di dalam tubuh penyu dan menyebabkan keracunan saat dikonsumsi. Hal yang sama juga mempengaruhi telur penyu yang juga berbahaya bila termakan oleh manusia," sebut Agung. (KRIDA/B-3)