BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Stagnannya harga minyak sawit mentah (CPO) membuat kinerja emiten perkebunan sepanjang tahun lalu menjadi kurang optimal dan tantangan emiten sektor perkebunan belum usai pada tahun ini.
"Prospek sektor perkebunan tahun ini masih akan stagnan. Sempat muncul sentimen negatif dari pembatasan ekspor CPO Indonesia oleh India akibat penerapan tarif pajak hingga 44% yang diberlakukan pemerintah di sana," kata analis Henan Putihrai, Yosua Zishoki, dalam risetnya.
Sentimen tersebut bisa dikompensasi oleh tingginya kebutuhan edible oil. Total impor terus tumbuh menjadi 15 juta ton pada tahun lalu, dari jumlah impor tersebut, sebesar 61% merupakan CPO.
"Artinya, masih ada kemungkinan India bakal terus mengekspor CPO. Sayang, sentimen positif itu justru pudar karena permintaan CPO dari Benua Eropa masih rendah dan penyerapan CPO untuk penggunaan biodiesel juga masih rendah, padahal harga minyak dunia sudah naik," papar Yosua.
Yosua memprediksi harga CPO tahun ini tidak bergerak banyak dibanding tahun lalu, yakni di rentang RM 2.200 per ton hingga RM 3.000 per ton.
--page
"Di sisi lain, masih adanya moratorium pembukaan lahan baru membuat dalam jangka panjang emiten-emiten CPO di Indonesia sulit untuk mengembangkan total volume produksinya," ujarnya. (NEDELYA RAMADHANI/)








