BORNEONEWS, Sampit - Anggota Komisi II DPRD Kotawaringin Timur H Abdul Kadir menyatakan bahwa masyarakat di Kotim jangan hanya bergantung hidup dengan satu sektor saja, namun harus berupaya mencari peluang dan usaha lainnya.
Berkaca dari sejarah di Kotim beberapa tahun silam terkenal sejahtera di era kejayaan sektor kehutanan. Namun saat ini kondisi itu terbalik, masyarakat banyak yang kesusahan karena terbiasa dengan kondisi awal.
Oleh karena itu menurut dia, jangan hanya bergantung dari satu sisi kegiatan usaha. Seperti contohnya kalau jadi petani karet juga harus berupaya punya kebun rotan. Sebab jika kondisi harga karet anjlok masih ada rotan yang biasanya masih memiliki harga cukup tinggi.
"Selain itu dengan sisa lahan yang ada jangan lagi diperjualbelikan. Karena kondisi dan luasan lahan untuk aktivitas bercocok tanam sudah menyempit, diperkirakan dalam beberapa dekade ke depan jika adanya obral lahan maka masyarakat akan kesusahan," katanya, Rabu (14/3/2018).
Sisa lahan yang ada itu, kata dia, hendaknya diberdayakan dan dimaksimalkan. Jangan dibiarkan terlantar, bahkan ia meminta agar masyarakat bisa mencari tanaman yang bisa menjadi penghasilan.
--page
Abdul Kadir juga mendesak agar ada program dari pemerintah untuk mengkampanyekan gerakan bercocok tanam di lahan terlantar. Pemerintah bisa saja mendukung dari pembersihan lahan hingga penyediaan bibit. Program ini dianggap sebagai program untuk menghadapi kemungkinan bidang ekonomi mengalami kesulitan. (NACO/m)








