JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit mentah (CPO) kemungkinan akan bergerak di kisaran RM2.450 per metrik ton (MT) hingga RM2.550 MT tahun ini, seiring dengan tingginya stok dan juga menguatnya ringgit Malaysia. 

Ekonom Public Investment Bank yakin rendahnya stok bulanan month-on-month (MoM) lebih disebabkan oleh rendahnya produksi akibat berkurangnya hari kerja.

Stok minyak sawit Malaysia pada Februari turun 2,9 persen MoM menjadi 2,47 juta MT, yang merupakan level terendah dalam empat bulan.

Lembaga riset tersebut juga mengatakan spread harga antara minyak sawit dan minyak kedelai kini mulai menipis, yang membuat harga minyak sawit menjadi kurang kompetitif, yang dapat memicu menurunnya permintaan.

Sedangkan Kenanga Research menyebutkan perusahaan-perusahaan perkebunan sawit masih mendapatkan marjin keuntungan meski prospek harga minyak sawit sedikit suram dan produksi meningkat.

--page

“Proyeksi harga CPO kami tetaplah di atas biaya produksi yakni sekitar RM1.400 per MT,” kata Kenanga yang dikutip The Edge Markets.

Untuk itu, sejumlah analis masih melihat sektor perkebunan 'Netral' sebagai antisipasi harga CPO turun pada kuartal kedua dan ketiga tahun ini dan juga karena tendensi pasar yang menekan saham-saham perkebunan.

Kenanga memperkirakan produksi minyak sawit akan tumbuh 17 persen menjadi 1,57 juta MT pada Maret, yang dapat memacu kenaikan produksi, yang kemungkinan terjadi hingga Mei-Juli 2018.

Selain itu, ekspor juga diproyeksikan naik, terutama dengan melakukan penetrasi ke pasar-pasar baru untuk mengurangi menumpuknya stok. 

Namun demikian, ekspor CPO bisa sedikit terhambat oleh kenaikan bea masuk terhadap minyak nabati oleh India.

--page

Kemudian, MIDF Research tetap mempertahankan proyeksi 'Positif' untuk sektor perkebunan dengan membaiknya proyeksi permintaan terhadap minyak sawit tahun ini.

“Kami yakin pertumbuhan ekonomi global yang membaik pada 2018 dapat mendorong tingginya konsumsi per kapita.”

Lembaga riset ini percaya permintaan akan naik mulai April hingga musim dingin berakhir di belahan bumi Utara, yang memicu tingginya penggunaan minyak sawit. (NEDELYA RAMADHANI/m)