PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Rombongan pemerintah dan wakil rakyat Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau bertandang ke Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (22/3/2018).

Kedatangannya dalam rangka menimba ilmu terkait tekhnologi tepat guna septictank terapung (Septer). Pertemuan pembelajaran itu berlangsung di Aula Kodim 1016 Palangka Raya.

“Kebetulan kita dapat kunjungan pembelajaran dari Kabupaten Indragiri, Riau untuk bersama-sama melihat bagaimana proses sanitasi jamban yang layak. Karena kondisi kita dengan kabupaten Indragiri memiliki karakter sama, dimana masyarakatnya tinggal di pinggiran sungai,” kata Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng, dr Feri.

Ia menuturkan, Kalteng sudah menerapkan teknologi tepat guna Septer sejak 2017 berkat ide cemerlang dari Tekhnik Sipil Universitas Palangka Raya. Bahkan sudah diakui secara nasional setelah menjalani uji dengan hasil baik dan dapat menjadi pembalajaran untuk daerah lain.

“Jadi ada dua jamban, yakni jamban terapung atau di perumahan lanting dan jamban panggung atau rumah yang ada di pinggiran sungai. Jamban sehat artinya itu tidak mencemari lingkungan. Proses pembuangan air besar tidak lagi langsung ke air. Kemudian bersama TNI, gerakan sejuta jamban juga sudah dilaksanakan,” tuturnya.

--page

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Indragiri Hilir, Feriandi mengatakan, ada 23 orang rombongan yang datang ke Kalteng untuk belajar. Jumlah itu tergabung dari anggota DPRD Kabupaten Indragiri Hilir, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD), Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Dinas Kesehatan, puskesmas, kepala desa, fasilitator total berbasis masyarakat (STBM) dan didampingi aparat TNI di kabupaten setempat.

“Ini adalah rekomendasi dari kementerian kesehatan yang mengarahkan Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hilir untuk belajar tentang jamban terapung ke Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng. Makanya kami datang ke sini dalam rangka belajar baik secara teori maupun melihat langsung di lapangan,” kata Feriandi.

Ia menambahkan, kondisi geografis kabupaten setempat mulai dari sisi karakteristik wilayah, alam hingga budaya masyarakat sama dengan Kalimantan. “Di Indragiri Hilir 60 persen itu perairan. Harapan kita sekembalinya dari sini, kita dapat menerapkan tekhnologi ini. Mudah-mudahan bermanfaat buat masyarakat,” pungkasnya. (BUDI YULIANTO/B-2)