SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Sekilas tidak ada hal yang janggal dan kurang dari anak bernama Bunga (9) yang bertempat tinggal di Gang Keluarga, Jalan Muchran Ali, Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) ini. 

Namun, saat disuruh berdiri, terlihat kaki kirinya mengecil tanpa otot. Hal itu disebabkan, ada saraf dan pembuluh darahnya yang putus. Kakinya pun tidak bisa digunakan untuk beraktivitas walau sekedar berjalan. 

Keadaan tersebut dideritanya sejak tumit kakinya terkena pecahan kaca di usia delapan tahun. Bunga pun harus dioperasi untuk penyambungan terhadap pembuluh darah.

Keadaan tersebut mengharuskan anak pertama pasangan Sukirno (34) dan Yuni (32) menggunakan tongkat saat berjalan. Walaupun begitu, semangat hidupnya untuk sembuh sangat tinggi. Bahkan dia tidak pernah mengeluh sama sekali. 

"Kami sangat senang, karena semangat dia untuk sembuh tinggi. Jadi setiap kali dianjurkan operasi, langsung kami setujui. Itu kami lakukan agar anak saya kembali normal," kata Yuni, Kamis (22/3/2018). 

--page

Saat ini sudah empat kali Bunga dioperasi. Dua kali di RSUD dr Murjani Sampit, dan sisanya di Banjarmasin. Walaupun menggunakan kartu BPJS, namun yang dipermasalahkan adalah biaya hidup di rumah sakit hingga penebusan obat yang tidak ditanggung BPJS. 

"Kami kesulitan biaya untuk pergi ke sananya. Apalagi suami saya yang hanya buruh serabutan, jadi tidak menentu hasilnya. Namun kami akan tetap berjuang," terang Yuni. 

Terkait itu, Karang Taruna Provinsi Kalteng dan Kotim secara bersamaan menyumbangkan bantuan hasil iuran anggotanya untuk keluarga anak tersebut. 

"Uang ini memang sedikit, namun paling tidak bisa disimpan sambil menabung hasil uang dari pekerjaan suaminya," kata Ketua Karang Taruna Provinsi Kalteng Abdul Hafid. 

Dia juga mengajak masyarakat agar turut memberikan sumbangan kepada keluarga anak tersebut. Karena uluran tangan masyarakat diharapkan demi kesembuhan anak tersebut. (MUHAMMAD HAMIM/B-11)