PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kota Palangka Raya sebagai ibukota Provinsi Kalimantan Tengah memang menjadi salah satu acuan pencatatan laju inflasi di Bumi Tambun Bungai, selain dari Kota Sampit.

Pada triwulan IV 2017 kedua kota ini mengalami penurunan tekanan inflasi, yakni Kota Palangka Raya 3,11 persen dan Sampit 3,29 persen, lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 3,94% dan 3,59%.

Khusus untuk Kota Palangka Raya, inflasi utamanya masih didorong oleh kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar.

"Kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar yang paling tinggi untuk inflasi di Palangka Raya yakni mencapai 9,39 persen, lebih rendah dari triwulan III 2017 sebesar 9,93 persen," kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia, Wuryanto, Jumat (23/3/2018).

Penurunan inflasi tersebut menurut Wuryanto terjadi lantaran tidak adanya kebijakan peningkatan harga pada komoditas tarif listrik dan tarif air minum PAM selama triwulan IV 2017.

--page

Sehingga terjadi penurunan tekanan dari inflasi tarif listrik menjadi 43,24 persen dari periode sebelumnya triwulan III 2017 sebesar 45,41 persen.

"Namun demikian, secara keseluruhan tahun 2017 kelompok ini mengalami peningkatan inflasi jika dibandingkan tahun 2016 sebesar 4,21 persen yang utamanya disebabkan penaikan harga tarif listrik di awal 2017," pungkas Wuryanto. (TESTI PRISCILLA/B-11)