BORNEONEWS, Sampit - PT Mustika Sembuluh (Wimar Group) menyatakan permintaan maaf kepada warga Desa Pondok Damar atas peristiwa yang terjadi berupa kasus perusakan rumah dan situs adat Dayak.
Pimpinan PT Mustika Sembuluh, Darwin, mengatakan, dirinya mewakili seluruh karyawan dan pimpinan di perusahaan tersebut, meminta maaf kepada warga Desa Pondok Damar, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), dan masyarakat daerah ini atas tindakan karyawan mereka.
"Kalau ada perlakuan anggota atau karyawan saya yang tidak baik, maka saya mohon maaf akan hal tersebut," ujar Darwin, Minggu (25/3/2018) saat berkunjung ke Pondok Damar bersama rombongan Gubernur Kalteng Sugianto Sabran dan Kapolda Kalteng Brigjen Pol Anang Revandoko.
Darwin berharap agar kasus yang sebelumnya terjadi tidak terulang kembali. Peristiwa perusakan yang telah terjadi dinilainya akan menjadi pelajaran bagi pihaknya sehingga bisa tercipta kenyamanan dan keamanan masyarakat sekitar di lingkungan perusahaan.
Selain itu, pihaknya juga menginginkan agar ada hubungan yang sangat erat antara pihak perusahaan dan masyarakat. Sehingga rasa kekeluargaan bisa tercapai dan menjadi suatu hal yang sangat baik untuk kemajuan daerah ini.
--page
"Kami berharap keberadaan kami di sini bisa diterima. Baik itu sebagai teman maupun keluarga oleh masyarakat," kata Darwin.
Dirinya menerangkan bahwa pemilik dari perusahaan tersebut sangat percaya dan yakin dengan investasi pihaknya di Kotim ini. Di mana investasi yang dikeluarkan pun adalah salah satu yang terbesar di Indonesia. Hal itu dilakukan karena memang mereka yakin bahwa keberadaan PT Mustika Sembuluh bisa diterima oleh masyarakat.
"Dan menjadi tetangga yang baik hingga keluarga bagi warga. Saya juga janjikan perusahaan tidak hanya berinvestasi di daerah ini, namun juga akan menyejahterakan masyarakat. Salah satunya adalah dengan pendidikan. Yang mana sekolah yang kami sediakan di sini bukan hanya untuk anak-anak karyawan. Namun juga masyarakat sekitar," kata Darwin.
Darwin mengaku sedih atas peristiwa perusakan yang terjadi. Namun itu menjadi suatu pembelajaran untuk dapat lebih baik lagi ke depannya. Sehingga perusahaan dan masyarakat bisa duduk rukun, tentram, damai, dan sejahtera.
Sedangkan untuk kasus lahan dan adanya dugaan perusakan Patung Sapundu, pihaknya akan melakukan pertemuan kembali dengan masyarakat. Untuk melakukan pembahasan apa saja yang harus dipenuhi oleh pihaknya. Dan tentu akan dilakukan secara musyawarah.
--page
Sebelumnya, masyarakat melakukan pemortalan di salah satu jalan yang ada di perkebunan tersebut. Hal itu buntut dari permasalahan lahan di sekitar perkebunan dan juga adanya dugaan pengrusakan patung Sapundu yang dilakukan oleh karyawan. Sehingga mereka menuntut hal tersebut, hingga kasus itu menjadi perhatian sampai Gubernur Kalteng datang ke desa tersebut. (MUHAMMAD HAMIM/B-5)








