JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Di tengah tekanan terhadap harga minyak sawit mentah (CPO) belakangan ini, ada potensi munculnya dukungan dari perang dagang antara Amerika Serikat dengan China.

"Mengenai perang dagang antara Amerika Serikat dengan China mungkin berpotensi untuk mempengaruhi harga, di mana kedua negara tersebut telah saling membalas sikap dengan kebijakan," kata Analis PT Monex Investindo Futures Arie Nurhadi dalam risetnya di Jakarta, Rabu (28/3/2018). 

Menurut Arie, jika saja China memberlakukan juga pada tarif impor tersebut pada komoditas kedelai Amerika Serikat, hal ini justru akan berimbas positif bagi kelanjutan harga CPO.

"Tampaknya jika saja China benar-benar memberlakukan tarif pada kedelai impor Amerika Serikat, hal ini diprediksi akan menjadi negatif bagi harga kedelai Amerika Serikat. Situasi ini justru akan menjadi potensi positif untuk harga CPO. Memang belum ada rilis resmi mengenai kabar ini, namun pelaku pasar tetap menantikan ketidakpastian yang ada," ucapnya.

Sementara itu, pada perdagangan Selasa (27/3/2018) harga CPO ditutup sedikit lebih rendah dari hari perdagangan sebelumnya di RM2.431. Menguatnya mata uang Ringgit Malaysia terhadap dolar AS menjadi alasan untuk CPO tetap berada di kisaran RM2.430-an. 

--page

Ekspektasi mengenai peningkatan permintaan ekspor CPO pada bulan ini, kata Arie, juga turut menjaga volatilitas harga komoditas yang ditransaksikan di Bursa Malaysia tersebut. 

Sedangkan pada sesi pertama perdagangan Rabu, pergerakan harga CPO sempat berada pada level RM2.422. Pada perdagangan hari ini juga terdapat peluang untuk penguatan dengan perlu adanya konfirmasi penembusan harga pada level resisten di kisaran RM2.436 (r1), RM2.453 (r2), dan RM2.476 (r3). Selain itu, terbuka juga potensi pelemahan yang dapat terjadi dengan acuan support pada kisaran harga di RM2.411 (s1), RM2.396 (s2), dan RM2.373 (s3). (NEDELYA RAMADHANI/m)