BORNEONEWS, Sampit - Sejumlah siswa SMKN 1 Mentaya Hulu rela menginap di Balai Pelatihan Guru (PLG) di Sampit agar mereka bisa mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) yang digelar di Sampit.
Di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) pelaksanaan UNBK diikuti oleh semua Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), tidak terkecuali SMKN 1 Mentaya Hulu.
Namun, untuk SMKN 1 Mentaya Hulu tersebut harus numpang UNBK di sekolah lain yakni SMKN 2 Sampit. Ini karena fasilitas komputer dan jaringan internet di sekolah mereka belum memadai.
Hal itupun membuat mereka rela menginap di Balai Pelatihan Guru Jalan Jendral Sudirman, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kotim selama ujian berlangsung.
"Karena di sekolah kami tidak memadai baik itu komputer, listrik, dan tentunya jaringan internet. Maka kami tahun ini ikut melaksanakan UNBK di SMKN 2 Sampit. Walaupun harus menginap di Balai Pelatihan Guru," ujar Kepala SMKN 1 Mentaya Hulu Tarmizi Taher, Senin (2/4/2018).
--page
Sedikitnya ada 35 siswanya yang pada 2018 ini mengikuti UNBK di SMKN 2 Sampit. Mereka semua berangkat dari daerah tersebut dengan menggunakan bus perusahaan. Jarak yang ditempuh yakni sepanjang 160 km. Dengan waktu tempuh yankni mencapai 3,5 jam.
"Kalau transportasi kami dibantu perusahaan yang berada di sekitar kecamatan tersebut. Sedangkan kalau tempat tinggal, kami pinjam di Balai Pelatihan Guru," kata Tarmizi.
Siswa yang menginap sementara tersebut diawasi oleh guru yang mengajar di SMKN 1 Mentaya Hulu. Ini agar tidak terjadi sesuatu hal yang tidak diingingkan.
Bahkan para siswa selama berada di Sampit untuk mengikuti UNBK juga beri pengayaan agar mereka bisa menjawab soal dengan baik dan benar.
"Selama ujian, kami juga berikan langsung pengayaan. Hal itu dilakukan agar mereka bisa lebih fokus belajar dan lebih cepat menyerap ilmu," terang Tarmizi.
--page
Walaupun ikut UNBK di SMKN 2 Sampit namun untuk komputer mereka juga membawa dari sekolah yakni sebanyak 15 buah. Ini agar meringankan pihak sekolah yang sudah menerima mereka.
Tarmizi optimistis pada tahun berikutnya UNBK sudah bisa dilaksanakan di sekolah asal mereka. Sehingga siswa bisa lebih fokus dalam belajar dan tidak lagi kecapean akibat berangkat ke Sampit.
"Kendala besar adalah jaringan internet yang sangat susah disana. Kalau listrik masih bisa disiasati dengan menggunakan mesin. Namun kalau jaringan inilah yang tidak bisa," ungkap Tarmizi. (MUHAMMAD HAMIM/B-5)








