BORNEONEWS, Palangka Raya– Warga Provinsi Kalimantan Tengah banyak yang berpotensi depresi atau stres. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), 6% penduduk Kalteng berpotensi terkena gangguan mental.
Angka prevalensi depresi itu lebih tinggi bila dibandingkan dengan pengidap gangguan jiwa berat yang kerap berakhir pada kasus pasung.
“Prevalensi untuk gangguan mental lainnya seperti depresi dan kecemasan, itu mencapai 6% dari jumlah penduduk, berdasarkan Riskesdas 2013,” kata Direktur Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Kalawa Atei, Suyuti Syamsul kepada Borneonews, Selasa (3/4/2018).
Ia mengingatkan, gangguan mental ringan kerap dianggap sepele. Padahal potensinya justru lebih besar menggejala di tengah masyarakat. Ini bisa dibandingkan dengan potensi gangguan jiwa berat, di mana hanya potensi 1 orang per 1.000 penduduk.
Suyuti Syamsul melanjutkan, gejala ganguan jiwa ringan maupun berat dapat diatasi atau diobati. Asalkan cepat ditangani.
Tetapi begitu pasien depresi berat, lalu diobati dan sembuh, tetapi tidak rutin dan akhirnya kambuh, justru akan membawa pada sulitnya kembali waras. Karena itu, bagi yang sudah depresi berat harus mengikuti pengobatan teratur. (ROZIQIN/B-3)








