PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya– Angka stunting (kerdil atau tubuh pendek) di Provinsi Kalimantan Tengah mencapai 39% pada 2017.

Faktor yang menjadi penyebab utama ialah kurangnya asupan gizi. Lebih spesifik lagi protein hewani.

Padahal masyarakat Kalteng dikenal penggemar mengonsumsi ikan yang merupakan sumber protein hewani. Ikan mudah didapatkan bahkan masyarakat hulu sekalipun.

Akan jauh berbeda dengan masyarakat di luar Kalimantan. Masyarakat Pulau Jawa misalnya, mereka lebih suka mengonsumsi makanan sumber protein nabati seperti tahu tempe dan bahan olahan nabati lainnya.

Tetapi justru angka stunting malah terdeteksi lebih besar di Pulau Kalimantan.

--page

Adanya kontradiksi (faktor alam dan budaya) inipun diakui Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalteng Yayu Indriyaty.

Ia tidak menampik ada dugaan faktor lain dan hal ini terus menjadi pembahasan. Misalnya faktor gen. Sebab banyak dijumpai pula orang bertubuh pendek ternyata cerdas dan tidak mengalami keterlambatan respons dan berpikir.

“Memang ada kontradiktif dengan kondisi Kalteng. Angka 39% itu masih kotor dan memang harus verifikasi lagi. Apakah karena gen atau faktor penentu lainnya. Tetapi bisa juga karena akses mendapatkan gizi akibat daerah terpencil misalnya,” kata Yayu kepada Borneonews, Selasa (3/4/2018).

Tetapi, Yayu tegas menampik bila besarnya angka stunting yang mencapai 39% dikaitkan titipan atau intervensi, baik dari lembaga/NGO asing maupun kementerian.

“Tidak ada intervensi (agar ada program Kalteng) begitu. Angka stunting 39% itu hasil penelitian. Itu sumber data dari PSG (pemantauan status gizi), sifatnya nasional dan dilakukan tiap tahun. Dana dari Kemenkes. Yang dilakukan sample penelitiannya di masing-masing provinsi,” sebut Yayu. (ROZIQIN/B-3)