BORNEONEWS, Sampit - Selama ini banyak masyarakat yang tidak mengetahui bahwa pohon pisang banyak manfaatnya. Bukan malah menjadi sampah atau lainnya, yang mana setelah diambil buahnya dibiarkan begitu saja.
Ada sejumlah kerajinan tangan yang bisa diolah dari bahan dasar batang pisang tersebut. Diantaranya adalah tas, dompet, dan juga ikat pinggang hingga. Sejumlah barang-barang menarik lainnya.
Seperti yang dilakukan oleh warga Desa Ganepo, Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) ini. Dimana mereka memanfaatkan limbah batang pohon pisang di kebun mereka dengan membuat sejumlah barang-barang yang kreatif dan bernilai ekonomis.
"Di sini warga memanfaatkan pohon pisang yang sudah diambil buahnya untuk kerajinan tangan, dan semuanya kami latih agar pohon pisang tidak sia-sia terbuang," ujar Ketua DPD Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Kotim Riskon Fabiansyah, Selasa (3/4/2018).
Ia mengaku bahwa ingin sekali membangkitkan semangat ekonomi kreatif di tengah masyarakat. Mereka harus pintar memanfaatkan apa yang ada dil ingkungannya untuk bisa diolah menjadi sesuatu yang bernilai jual.
Dan salah satu yang bisa dimanfaatkan adalah mengolah pohon pisang menjadi suvenir ataupun barang lainnya. Semuanya diberikan pelatihan oleh AMPI dan KNPI.
"Ini adalah trobosan kami bersama KNPI untuk mengembangkan kerajinan tangan yang bisa mambantu masyarakat untuk meningkatkan pendapatan mereka," kata Riskon.
Ia mengungkapkan, di desa tersebut memang banyak pohon pisang. Karena di daerah tersebut merupakan program dari pemerintah untuk menanam 1000 pohon pisang. Sehingga hal itulah yang harus dimanfaatkan.
Untuk cara pembuatan suvenir dari bahan utama pohon pisang yakni, pertama pohon pisang yang dikumpulkan tersebut dijemur lebih dulu hingga kering. Setelah benar-benar kering, barulah warga membuat barang sesuai dengan keinginan mereka. Seperti sandal limbah pohon pisang, kotak tisu, vas bunga, serta pernak-pernik kerajinan lainnya yang semuanya terbuat dari limbah pelepah pohon pisang dengan cara dianyam.
"Ini sebagai bentuk agar masyarakat kreatif, terutama anak muda. Sehingga tidak bergantung pada pekerjaan umum ataupun di kantoran. Namun bisa menciptakan pekerjaan sendiri yang menjanjikan," terang Riskon. (MUHAMMAD HAMIM/m)


