JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyatakan, ekspor produk minyak sawit mentah (CPO) Indonesia ke India diperkirakan mengalami penurunan 15%, setelah negara tersebut menaikkan bea masuk.

“Pertumbuhan ekspor crude palm oil (CPO) ke India menipis dalam 2 bulan pertama 2018, dibandingkan dengan periode Januari hingga Februari tahun lalu. Penurunan ekspor tersebut akibat kenaikan bea masuk yang diterapkan pemerintah India sejak akhir 2017,” kata Ketua Umum GAPKI, Joko Supriyono, di Jakarta, Jumat (6/4/2018).

Berdasarkan data GAPKI, permintaan dari India naik sangat tipis hanya 1% dari 593.250 ton dari Desember 2017 menjadi 598.350 ton di Januari 2018. Ekspor minyak sawit Indonesia, yaitu CPO dan turunannya (tidak termasuk biodiesel dan oleochemical) hanya mampu membukukan kenaikan sebesar 4% dibandingkan dengan Desember 2017, yaitu dari 2,63 juta ton naik menjadi 2,74 juta ton di Januari 2018.

Sementara itu, dari data Badan Pusat Statistik yang dirilis 15 Maret lalu, ekspor CPO ke pasar terbesar minyak sawit tersebut anjlok hingga 35,90% atau dari US$543,3 juta pada Januari hingga Februari 2017 turun menjadi US$348,2 juta pada periode yang sama 2018.

Secara month to month, ekspor pada Februari dibandingkan dengan saat Januari juga mengalami penurunan tajam sebesar 34,55% dari US$210,4 juta pada Januari menjadi US$137,7 juta pada Februari 2018. 

--page

Bahkan jika dibandingkan dengan angka Februari 2017, kinerja ekspor bulan kedua tahun ini turun 24,44% atau dari US$182,3 juta menjadi US$137,7 juta. (NEDELYA RAMADHANI/m