BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Dalam kegiatan Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) Media Visit yang diikuti 28 media cetak dan online lokal, nasional dan internasional, Jumat (6/4/2018) juga digelar field trip ke Desa Tanjung Terantang dan Desa Tanjung Putri, Kecamatan Arut Selatan (Arsel) Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) untuk meninjau keramba binaan Non Goverment Organization (NGO) Yayasan Orangutan Indonesia (Yayorin).
Dua site keramba pemeliharan ikan yang dikelola masyarakat di Desa Tanjung Terantang dan di Sungai Buluh yang berada di kawasan penyangga bagian timur Suaka Marga Satwa (SM) Sungai Lamandau yang merupakan kawasan Hutan Kemasyarakatan (HKn).
Ada dua kelompok tani yang mengelola keramba tersebut yaitu Kelompok Tani Sejati dan Kelompok Tani HKm Sepakat.
Di lokasi keramba, salah seorang anggota Kelompok Tani Sejati Muhammad Thamrin (63 tahun) menuturkan ada beberapa jenis ikan yang dipelihara di keramba yang dikelola kelompok taninya.
"Jenis ikan yang dipelihara diantaranya adalah Bakut, Nila, Udang Galah dan Toman. Pemilihan jenis ikan yang dipelihara tersebut alasannya adalah kemudahan untuk memasarkan hasilnya," jelasnya.
--page
Dalam satu keramba, terbagi dalam satu blok pemeliharaan ikan yang masing-masing dimiliki oleh 2 orang anggota kelompok tani.
"Jadi anggota kelompok tani yang saya ikuti terdiri dari 40 orang. Selain dipinggir Sungai Arut, keramba tersebut juga berada di Sungai Buluh yang masuk kawasan penyangga SM Sungai Lamandau," jelasnya.
Menurut Thamrin, hasil keramba tersebut 10 persen yang disisihkan bagi kas kelompok tani dan sisanya dibagi dua oleh anggota kelompok tani yang mengurus keramba.
Awalnya dia bersama rekannya adalah petani yang menggarap lahan di Desa Tanjung Terantang.
"Namun saat ada larangan membakar lahan, kami agak kesulitan untuk menggarap lahan untuk bertani. Jadi selain diberikan pengetahuan pengolahan lahan tanpa bakar kami juga dikenalkan cara pemeliharaan ikan di keramba," jelasnya. (YUDA/B-6)








