BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Isu perang dagang antara Amerika Serikat dan China masih mewarnai pergerakan pasar domestik. China akan mengenakan bea masuk dengan menargetkan produk kedelai, pesawat terbang dan alat berat asal AS.
Di satu sisi, kebijakan balasan ini bisa jadi sentimen negatif. Namun di sisi yang lain kebijakan ini juga bisa berimbas positif terhadap pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Imbas positif ini bisa datang dari pengenaan tarif terhadap produk kedelai dari AS ke China. Dengan kebijakan ini akan membuat China memilih menggunakan produk Crude Palm Oil (CPO) ketimbang kedelai. Hal ini bisa menjadi angin segar bagi industri CPO yang mengalami penurunan harga.
"CPO akan benefit karena kedelai dari AS akan dikenakan tarif China dan menjadi mahal, sehingga China akan lebih mengonsumsi CPO," kata Managing Director & Head of Equity Capital Market Samuel International, Harry Su, dalam risetnya akhir pekan ini.
Beberapa emiten CPO yang bisa menuai berkah dari sentimen ini di antaranya PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT London Sumatra Tbk (LSIP), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), dan PT Sampoerna Agro Lestari Tbk (SGRO).
--page
Harry memperkirakan, jika harga CPO meningkat akan mengerek pendapatan perusahaan-perusahaan perkebunan ini.
"Setiap 10% harga CPO naik, net profit dari perusahaan CPO Indonesia bisa meningkat 30%," papar Harry.
Harga saham AALI secara year to date (ytd) naik 4,18%. Pada perdagangan Kamis (5/4/2018) bertengger di harga Rp 13.700, melemah 100 bps atau sebesar 0,72%. Kinerja keuangannya sepanjang tahun lalu juga naik 23% dari Rp14,1 triliun menjadi Rp17,3 triliun. Kenaikan ini disumbang oleh pertumbuhan produksi dari 4,8 miliar ton pada 2016 menjadi 5,2 miliar ton pada 2017. (NEDELYA RAMADHANI/m)








