SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Setelah adanya larangan dari pemerintah bagi masyarakat untuk bercocok tanam membuka lahan dengan cara membakar membuat sebagian masyarakat tidak bisa lagi berladang.

Karena selama ini sistem yang dilakukan masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) jika ingin membuka ladang harus dengan sistem membakar.

Maka dari itu Wakil Ketua DPRD Kotim, Parimus meminta agar ada solusi larangan membakar agar masyarakat bisa lagi bercocok tanam. Karena tentunya setiap larangan harus ada solusi lain yang diberikan.

"Saya melihat banyak masyarakat lokal saat ini berhenti total berladang karena tidak ada alat untuk membuka lahan, ini yang harus dipikirkan oleh pemerintah," kata politisi Demokrat ini, Sabtu (7/4/2018).

Lanjut Parimus masyarakat yang tidak bisa berladang berharap ada solusi dari pemerintah, bisa dari memberikan bantuan alat atau meminjamkan alat land clearing bagi petani agar mudah membuka lahan.

--page

Karena jika ini tidak dipikirkan yang kasihan para petani yang masih sangat mengharapkan berladang untuk tumpuan hidup mereka selama ini, tentu jika dibiarkan mereka akan menjadi korban larangan membakat lahan tanpa solusi.

Di sisi lain Parimus mendukung larangan membakar lahan. Apalagi setiap tahun Kotim selalu jadi langganan musibah kebakaran hutan dan lahan. Namun harus dipahami selama ini soal kultur masyarakat lokal.

Mata pencaharian mereka lakukan dengan sistem buka ladang. Turun temurun masyarakat berladang dengan sistem buka lahan dengan cara membakar.

Pola yang dirubah ini harus dibarengi dengan sosialisasi dan solusi. Karena bisa saja nanti pada akhirnya masyarakat kucing-kucingan membakar lahan mereka jika tidak ada lagi jalan keluar dari pemerintah. (NACO/B-6)