JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Banyak kalangan menilai bahwa perang dagang antara Amerika Serikat dengan China justru akan menguntungkan sektor kelapa sawit. Ini alasannya.

China yang selama ini menjadi pengimpor kedelai terbesar dari AS, dinilai akan mengalihkan kebutuhan minyak nabatinya terhadap minyak sawit ketimbang minyak kedelai setelah tarif impor dari Negeri Paman Sam melonjak akibat perang dagang, kata analis dari Public Investment Bank (PublicInvest) dalam risetnya akhir pekan lalu.

PublicInvest mengatakan rencana China menerapkan bea masuk terhadap beberapa komoditas AS akan membuat minyak sawit menjadi lebih menarik bagi pengimpor minyak nabati di Negeri Tirai Bambu.

“Ketimbang mengalihkan permintaan minyak kedelai dari Brasil, para konsumen China mungkin bisa mengubah pola konsumsi mereka dari minyak nabati berbasis kedelai ke minyak nabati berbasis sawit. Pilihan ini lebih rasional jika mengacu pada tingginya harga minyak kedelai dibandingkan dengan minyak sawit yang tak dikenakan tarif impor,” sebuat perusahaan riset tersebut.

Untuk diketahui, China, yang menjadi pengimpor terbesar oilseed dari AS, berencana menerapkan tarif impor 25 persen terhadap sejumlah komoditas pertanian asal AS, seperti kedelai, gandum, jagung, kapas, sorghum, tembakau dan daging sapi. Langkah itu sebagai aksi balasan atas penerapan tarif oleh AS terhadap impor baja dan aluminium dari China.  

--page

Adapun komoditas pertanian yang dikenakan tarif impor itu termasuk dalam daftar 106 produk asal AS yang menjadi pertimbangan Negeri Tirai Bambu untuk dijadikan 'senjata' melawan AS dalam perang dagang antara kedua negara tersebut. (NEDELYA RAMADHANI/m)