JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Analis Ciptadana Sekuritas, Yasmin Soulisa, menilai isu perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China justru tidak berpengaruh langsung terhadap emiten kebun. 

"Selama ini kedelai dari China lebih banyak digunakan sebagai pakan ternak. Diperkirakan harga CPO masih bisa melemah ke RM2.500 per ton di tahun ini," katanya dalam risetnya awal pekan ini.

Di sektor ini, Yasmin merekomendasikan saham PT London Sumatra Plantations Tbk (LSIP) dengan target harga Rp1.640 per saham. 

"Selain karena kinerja keuangan yang sehat, produksi tandan buah segar LSIP juga masih tumbuh,” papar dia.

Berbeda dengan pernyataan Yasmin, Managing Director & Head of Equity Capital Market Samuel International, Harry Su, menyatakan bahwa perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China bisa memberi peluang bagi produsen minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO), seperti Indonesia dan Malaysia.

--page

Saat ini, isu perang dagang antara Amerika Serikat dan China masih mewarnai pergerakan pasar domestik. China akan mengenakan bea masuk dengan menargetkan produk kedelai, pesawat terbang dan alat berat asal AS.

Di satu sisi, kebijakan balasan ini bisa jadi sentimen negatif, namun di sisi yang lain kebijakan ini juga bisa berimbas positif terhadap pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Imbas positif ini bisa datang dari pengenaan tarif terhadap produk kedelai dari AS ke China. Dengan kebijakan ini akan membuat China memilih menggunakan produk Crude Palm Oil (CPO) ketimbang kedelai. Hal ini bisa menjadi angin segar bagi industri CPO yang mengalami penurunan harga.

"CPO akan benefit karena kedelai dari AS akan dikenakan tarif China dan menjadi mahal, sehingga China akan lebih mengonsumsi CPO," kata Harry Su.

Beberapa emiten CPO yang bisa menuai berkah dari sentimen ini di antaranya PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT London Sumatra Tbk (LSIP), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), dan PT Sampoerna Agro Lestari Tbk (SGRO).

--page

Harry memperkirakan, jika harga CPO meningkat akan mengerek pendapatan perusahaan-perusahaan perkebunan ini.

"Setiap 10% harga CPO naik, net profit dari perusahaan CPO Indonesia bisa meningkat 30%," papar Harry. (NEDELYA RAMADHANI/m)