BORNEONEWS, Kasongan - Para petani atau pemilik kebun rotan di Kabupaten Katingan ibarat hidup segan mati tak mau. Sebab, lebih dari 10 tahun harga rotan mentah atau asalan di Bumi Penyang Hinje Simpei ini anjlok.
Meski murah, sebagian besar petani rotan di kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Kotawaringin Timur ini tetap menggantungkan hidup terhadap tumbuhan berduri tajam dan merambat itu.
Ini karena ketersediaan lapangan kerja di wilayah itu masih sangat terbatas. "Mau tidak mau kami masih mengandalkan rotan untuk memenuhi keperluan tiap hari," kata Suhardi, warga Desa Talingke Kecamatan Tasik Payawan saat berada di Kasongan, Selasa (10/4/2018).
Menurutnya, harga rotan jenis irit saat ini hanya dihargai Rp50 ribu per kwintal. Sementara rotan jenis sigi dihargai Rp60 ribu per kwintal.
Menurutnya, meski harganya murah, masih ada saja pengepul yang membeli rotan itu. "Harapan kami harga rotan bisa kembali naik seperti dulu lagi, ya paling tidak sepikulnya Rp150 ribu, itu sudah lumayan ketimbang hanya Rp50 ribu saja. Soalnya memotong rotan cukup beresiko dan sulit karena durinya banyak menjalar ke batang pohon yang tinggi," imbuhnya. (ABDUL GOFUR/B-2)








