BORNEONEWS, Palangka Raya – Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) Slamet Winaryo menegaskan pelaksanaan Ujian Nasional SMA di Kabupaten Barito Timur (Bartim) sudah 100% berbasis komputer.
Ia menyesalkan pernyataan Kepala dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Bartim, Mahudi Sdalid yang seakan tidak tahu persoalan, meskipun SMA itu ada di wilayahnya, kemudian berbicara di depan pers. Karena itu, ia merasa meluruskan apa yang dikemukakan Mahudi.
Menurut Slamet, semua SMA di Kalteng sudah melakukan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), tidak lagi Ujian Nasional Berbasis Kertas dan Pensil (UNKP) dimana siswa mengerjakan pada Lembar Jawaban Komputer (LJK) seperti tahun-tahun sebelumnya.
“Di Bartim itu ada 11 SMA, semuanya UNBK, 0 UNKP. Ada yang tidak UNBK itu di Madrasah Aliyah (MA). Itu ada 3 sekolah tapi 1 saja yang UNBK, 2 sekolah UNKP,” terang Slamet kepada Borneonews, Selasa (10/4/2018).
“Tetapi perlu dicatat, MA ini kewenangannya ada di Kementerian Agama (Kemenag), bukan kita. Dan MA juga belum ada target nasional untuk 100% UNBK, ini yang harus dipahami. Tetapi aneh, Kadis disana kok tidak menjelaskan,” sesalnya.
--page
Ia gusar, bagaimana mungkin kepala dinas tidak tahu. Padahal dalam beberapa hari yang lalu sebelum pelaksanaan UNBK, Diknas Provinsi sudah membuat pertemuan membahas pelaksanaan ujian SMA yang berlangsung di kabupaten-kabupaten tersebut.
Slamet mengatakan, memang benar saat ini kewenangan pengelolaan SMA sederajat adalah bukan lagi ada di Kabupaten/Kota. Tetapi Pemerintah Provinsi dan kabupaten harus sinergi tetap memerhatikan kualitas pendidikan di kabupaten, karena letak SMA sederajat juga di kabupaten.
“Kita dukung terus peningkatan kualitas pendidikan di daerah. Gubernur sendiri sudah sangat serius memerhatikan kulitas pendidikan, tentu bagi kabupaten yang juga serius. Saya menyesalkan kalau Kadis di sana tidak saling mendukung,”.
“UNBK di SMA maupun SMK ini tidak main-main. Tahun ini kita kejar semua 100 persen. Karena ini harga diri Kalteng untuk bersaing dengan yang di luar Kalteng. Kalau ada sekolah menumpang ujian di sekolah lain, itu masalah teknis pelaksanaan saja, karena keterbatasan fasilitas dan itu tidak masalah, ujian tetap sah,” tegasnya.
Sebelumnya diberitakan, 14,29 persen SMA dan MA Bartim belum melaksanakan UNBK. Data itu dilansir di situs unbk.kemendikbud.go.id ada SMA/MA yang tidak dapat melaksanakan UNBK secara online 14,29 persen.
--page
Kepala dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Bartim Mahudi Sdalid mengatakan, pihaknya akan mengecek kembali informasi yang menyebutkan untuk SMA/MA sekitar 14,29 persen belum bisa melaksanakan UNBK tersebut.
"Itu bisa saja terjadi, bisa iya bisa juga tidak. Kita tidak tahu, kan masih sekolah yang ada di desa-desa maupun di kecamatan apa sudah ada jaringan internet yang layak untuk melakukan UNBK secara online,"ucapnya kemarin. (ROZIQIN/B-2)








