BORNEONEWS, Palangka Raya- Kepala Balai Bahasa Kalimantan Tengah Haruddin mengatakan, bahasa merupakan identitas bangsa. Bahasa, termasuk bahasa daerah dan bahasa Indonesia, sama-sama memiliki peran dalam pempertahankan bangsa.
Terlebih bahasa Indonesia kebanyakan didapat dari serapan bahasa daerah, meski harus diakui tidak dari semua daerah di Indonesia.
"Penutur bahasa daerah ini semakin sedikit, sedangkan penutur bahasa Indonesia belum fasih. Padahal diprediksikan bahwa 35 tahun ke depan, Indonesia akan menjadi negara terbesar ke tiga di dunia. Tetapi apakah ini bisa terwujud kalau kita tidak mengusahakannya," tutur Haruddin dalam kegiatan Diseminasi Program Pengayaan Kosakata kepada Masyarakat dan Menyosialisasikan Aplikasi KBBI Edisi V Daring, Rabu (11/4/2018).
"Kita dikatakan besar karena memiliki bahasa yang sangat banyak. Bayangkan di Kalteng saja ada 23 bahasa daerah, belum lagi di daerah lain. Tapi kalau lama-lama tidak ada yang mau menuturkannya bahasa itu akan punah. Ini akan berpengaruh pada bahasa Indonesia karena tidak akan ada lema untuk memperkaya kosakata bahasa Indonesia dan imbasnya, bukan tidak mungkin bahasa Indonesia juga tidak akan berdaya di tanahnya," sambung dia.
Menurut Haruddin, sistem pembelajaran di Indonesia sebenarnya menggunakan bahasa Indonesia sebagai pengantar. Anehnya, nilai perolehan dalam ujian bahasa Indonesia selalu rendah.
--page
"Jika kita ingin mengusahakan menjadi negara terbesar ketiga seperti yang diprediksikan, kita harus belajar, anak-anak harus sekolah setinggi-tingginya, dan kunci dari sekolah ialah bahasa. Kunci dari kemajuan bangsa ialah bahasa. Bayangkan berapa negara yang tidak punya bahasa sendiri, masih menggunakan bahasa dari negara lain untuk bahasa pemersatu, sedangkan kita punya bahasa kita sendiri, bahasa Indonesia," tutupnya. (TESTI PRISCILLA/B-3)








