BORNEONEWS, Pangkalan Bun - PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) siap memperluas pasar ekspor demi mengantisipasi tersendatnya volume ekspor minyak sawit mentah (CPO) ke pasar India.
"Pemerintah India mengerek bea masuk sebesar 45% untuk produk sawit dan 54% untuk produk turunannya. Saat ini, India sudah mengenakan tarif sebesar 7,5% hingga 15% untuk produk sawit dan 15% sampai dengan 25% untuk produk turunan sawit," kata Wakil Presiden Direktur AALI, Joko Supriyono, di Jakarta, Kamis (12/4/2018).
Anak usaha Grup Astra ini memang mengandalkan India sebagai negara tujuan ekspor. Porsi pasar India sebesar 7,6 juta ton atau 24,52% dari total ekspor kelapa sawit Indonesia yang sebesar 31 juta ton.
"Makanya sangat signifikan, kalau India terganggu akan berasa. Pengiriman ekspor Astra Agro ke India mulai Januari menurun," papar Joko.
Namun, Joko enggan merinci kontribusi pasar India terhadap kinerja ekspor Astra Agro Lestari. Berdasarkan catatan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), permintaan dari India hanya naik 1% pada awal tahun ini, dari 593.250 ton pada Desember 2017 menjadi 598.350 ton sepanjang Januari 2018.
--page
Joko mengatakan, pihaknya mulai mencari pasar alternatif untuk mengekspor produk CPO dan turunannya ke beberapa negara potensial, antara lain Pakistan, Bangladesh dan negara di Afrika.
"Meskipun tidak sebesar India, ketiga negara ini dianggap memiliki prospek cukup cerah bagi industri CPO di Tanah Air," ujarnya.
Tahun ini, AALI mengucurkan belanja modal (capex) senilai Rp1,8 triliun sampai dengan Rp2 triliun. (NEDELYA RAMADHANI/m)








