BORNEONEWS, Sampit - Meluapnya limbah PT Mustika Sembuluh (Wilmar Group) yang beroperasi di Desa Pondok Damar, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dinilai sudah sering kali terjadi sejak 2008. Kejadian itu masih terus berulang. Sayangnya penanganan dari perusahaan selama ini dinilai masih setengah hati.
Tokoh masyarakat Pondok Damar Suharjo mengatakan, akibat luapan limbah yang terus terjadi itu anak Sungai Sampit yang menjadi akses kegiatan mereka sehari-hari itu sudah lama tidak bisa dimanfaatkan lagi.
"Kalau perusahaan serius kejadian seperti ini tidak terulang. Kami melihat meluapnya limbah berulang karena penanganannya selama ini tidak serius," kata Ketua BPD Pondok Damar itu, Kamis (12/4/2018).
Akibat sungai yang tercemar itu menurut Suharjo, aktivitas cuci, mandi dan lain sebagainya terganggu. Sementara selama ini tidak ada perhatian dari perusahaan untuk menyelesaikan permasahan itu.
"Seperti air bersih yang seperti mereka sebutkan itu tidak efesien sama sekali, tidak pernah sama sekali air bersih disalurkan. Kami hanya memanfaatkan air sumur saja," tegasnya.
--page
Sementara itu, Ketua DAD Pondok Damar, Yadi Berti juga menegaskan kalau ia saksi hidup meluapnya limbah Mustika Sembuluh yang selalu terulang. "Jangan sampai terus terulang, karena kejadian seperti ini sudah sering kali terjadi," tegas Yadi.
Sementara itu Andi Ayub, manager Bina Mitra Wilmar Group mengatakan kalau pihaknya sudah menyalurkan air bersih. Namun belakangan ini terhenti karena unit kendaraan yang menyalurkan air itu dalam perbaikan.
"Truk damkarnya masih kami perbaiki. Kendaraannya rusak makanya sempat terhenti penyalurannya," tandasnya. (NACO/B-5)








