BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Keputusan Pemerintah Malaysia memperpanjang penundaan penerapan bea keluar (BK) untuk minyak sawit (CPO) akan memberikan dukungan bagi penguatan harga komoditas ini.
Dalam risetnya akhir pekan ini, analis Affin Hwang Investment Bank, Nadia Aquidah, menyatakan bahwa kebijakan Malaysia itu akan meningkatkan permintaan ekspor dan menurunkan cadangan minyak sawit.
Analisis senada juga diungkapkan analis CIMB Investment Bank Bhd, Ivy Ng Lee Fang, yang dalam laporannya menyebutkan bahwa meningkatnya permintaan expor CPO selama Maret bisa jadi merupakan imbas dari kebijakan tersebut.
Disebutkan juga bahwa ekspor CPO Malaysia selama Maret naik 19% (month-on-month) ke level tertinggi 29 bulan di posisi 1,57 juta ton, yang didorong tingginya permintaan dari China dan India, sebagai persiapan menjelang Ramadan.
Kedua analis tersebut menekankan, tingginya kinerja ekspor pada Maret membuat stok minyak sawit terjaga rendah, yakni turun 6% menjadi 2,32 juta ton meski terjadi peningkatan produksi.
--page
Ng mengatakan tingginya produksi CPO pada Maret 2018 yang sebesar 1,57 juta ton mengindikasikan tanaman sawit sudah mulai pulih dari dampak El Nino.
Akan tetapi, menurut Ng, perusahaan sawit diperkirakan akan mencatat pendapatan lebih rendah secara kuartalan pada kuartal pertama tahun ini menyusul turunnya harga CPO dan produksi. Untuk pendapatan secara tahunan pada kuartal pertama 2018 juga diperkirakan lebih rendah akibat tingginya produksi yang tak mampu mendongkrak harga CPO. (NEDELYA RAMADHANI/m)








