JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Isu-isu tenaga kerja yang membayangi industri kelapa sawit Malaysian harus bisa diatasi dengan meningkatkan mekanisasi industri.  

"Mekanisasi sektor kelapa sawit bukanlah hal yang mewah, tapi imperatif," kata pakar industri sawit, M. R. Chandran, yang juga sebagai penasihat Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), di Kuala Lumpur, Kamis (12/4/2018).

Chandran berbicara tentang pentingnya mekanisasi industri sawit itu di sela peluncuran sistem pemotong tandan buah sawit elektris (Electric Harvesting Cutter/ECUT) yang dikembangkan oleh Kingoya Enterprise Sdn Bhd.

Ia menjelaskan bahwa usulan kenaikan upah minum pekerja terlatih di perkebunan sawit menjadi RM3.500 dapat menggoyang industri sawit Malaysia, dan efisiensi dapat dilakukan dengan penerapan mekanisasi industri, yang pada akhirnya dapat mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja asing. Saat ini para pekerja asing di sektor sawit didominasi oleh tenaga kerja Indonesia (TKI), Filipina atau Banglades.  

Langkah peningkatan mekanisasi itu dinilai Chandran sangat penting, khususnya jika melihat tingginya jumlah tenaga kerja asing di sektor sawit Malaysia. Per Mei 2017, diperkirakan jumlah tenaga kerja di sektor sawit mencapai 427.000 orang, dengan 77% di antaranya adalah pekerja asing.

--page

"Mekanisasi tak hanya dapat mengurangi ketergantungan terhadap tenaga kerja asing, tapi juga dapat menekan biaya, termasuk kerugian dari sisi nilai kurs karena sebagian besar biaya untuk upah akan dibawa ke negara asal masing-masing pekerja," imbuhnya.  

Untuk diketahui, Malaysia menargetkan dapat mengurangi jumlah tenaga kerja asing di sektor sawit sebanyak 110.000 orang hingga 2020, yang termasuk dalam Economic Transformation Programme. (NEDELYA RAMADHANI/m)