BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Di tengah upaya keras lobi dan negosiasi oleh berbagai pihak di Malaysia dan Indonesia untuk meredam kampanye negatif terhadap sawit, ternyata di Inggris kampanye itu muncul kembali.
Padahal Inggris menjadi salah satu negara di Eropa yang secara tegas menolak diskriminasi terhadap produk berbasis minyak sawit oleh Uni Eropa. Kasus terbaru terkait upaya diskriminasi terhadap produk makanan berbasis sawit adalah pencabutan seluruh produk berbahan sawit dari rak toko swalayan milik Iceland Supermarket di Inggris.
Atas kasus tersebut, perusahaan perkebunan sawit terkemuka asal Malaysia, Sime Darby Plantation Bhd (SD Plantation), mengaku kecewa dan menyayangkan apa yang telah dilakukan Iceland Supermarket.
Dalam keterangan tertulisnya yang diterima Selasa (17/4/2018), SD Plantation mengatakan bahwa dengan mengganti produk berbasis sawit dengan produk lain di rak tokok swalayan milik Iceland Supermarket itu hanya akan memberikan tekanan lebih besar terhadap hutan. Pasalnya, untuk menghasilkan minyak nabati selain sawit membutuhkan lahan lebih luas guna menghasilkan minyak dengan jumlah volume setara.
SD Plantation juga menyesalkan pernyataan dari managing director Iceland, Richard Walker, yang menyatakan pihaknya tidak percaya dengan jaminan bahwa minyak sawit yang dijajakan di pasar sudah melalui praktik industri berkelanjutan.
--page
Situs web milik Iceland menunjukkan bahwa jaringan pasar swalayan itu menjadi supermarket pertama di Inggris yang menghentikan penggunaan minyak sawit sebagai salah satu bahan untuk membuat beragam produk makanan yang dijajakan di Iceland Supermarket.
Tak hanya itu, dalam situs Iceland juga terpampang logo “No Palm Oil” dengan disertai tulisan “No Appetite for Extinction”.
Untuk diketahui, minyak sawit adalah tanaman penghasil minyak yang paling efisien dan menghasilkan minyak antara empat hingga 10 kali lebih banyak per buah sawit dibandingkan dengan komoditas lain, seperti kedelai, rapeseed atau bunga matahari. (NEDELYA RAMADHANI/m)








