JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Kendati masih berusaha meyakinkan Uni Eropa, Indonesia kini tengah mencari pasar alternatif lain untuk memasarkan Crude Palm Oil (CPO). 

"Hingga saat ini, tiga besar tujuan ekspor CPO dari Indonesia masih diduduki oleh India, Uni Eropa, dan China. Selama tahun lalu, ekspor CPO dari Indonesia menembus angka 23 miliar dolar AS atau naik 26% dibanding perolehan 2016," kata Kepala Badan Pengkajian Dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), Siswo Pramono, di Jakarta, Kamis (19/4/2018).

Siswo juga menegaskan keharusan Indonesia untuk menyerap tiga juta ton CPO demi memangkas porsi ekspor komoditas nasional tersebut. Dengan demikian, suplai ke pasar global berkurang dan harga CPO akan terdongkrak.

"Artinya, kita juga harus mawas diri meningkatkan serapan di dalam negeri. Jadi yang tiga juta ton bisa terserap di dalam negeri, selain mencari pasar baru," papar dia.

Pemerintah Indonesia tengah berupaya meyakinkan Uni Eropa bahwa budidaya minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO) di Nusantara tidak merusak lingkungan. Selain meyakinkan Uni Eropa, pemerintah tengah berupaya memperluas pasar CPO. 

--page

Salah satu caranya untuk meyakinkan Uni Eropa dilakukan dengan mengajak para duta besar dan pejabat negara-negara Uni Eropa di Indonesia ke perkebunan kelapa sawit di sejumlah daerah. Beberapa perkebunan sawit bahkan diklaim sudah memiliki sertifikasi ISO 14001 untuk seluruh operasionalnya. (NEDELYA RAMADHANI/m)