PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya– Selama ini tidak banyak peneliti dari para dosen di Indonesia  yang mampu menciptakan hilirisasi penelitian. Para akademisi dalam bekerja selalu berkutat pada penelitian yang menghasilkan ‘output’ penelitian itu sendiri. Belum pada goals dan outcome.

Dalam arti lain, akademisi melakukan penelitian yang dampaknya dirasakan untuk diri sendiri atau kelompok akademisi, belum pada hal-hal yang bertujuan praktis dan dirasakan kemanfaatannya oleh dunia luar.

“Maka dari itu hasil riset harus ditempatkan sebagai produk. Lebih konkretnya bisa ditangkap oleh komersial sehingga berbuah income, baik untuk peneliti maupun institusi atau kampus,” kata Plt Rektor Universitas Palangka Raya yang juga Sekretaris Ditjen Kelembagaan Iptek dan Dikti Agus Indarjo saat memberi kuliah umum kepada mahasiswa Program Doktoral UPR, Sabtu (21/4/2018).

Indarjo mengatakan, pihak Kementerian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Ristekdikti) sudah menggalakkan agar peneliti atau akademisi melihat peluang dan kebutuhan. Sehingga keunggulan periset universitas tidak hanya menjadi menara gading.

Yang sering terjadi, kampus sering mengeluh minimnya tetesan anggaran dari negara atau donor sebagai alasan kampus belum semaju luar negeri. Hal ini dibantah Indarjo. Justru kampus di luar negeri itu, yang bereputasi bisa dipastikan adalah jenis kampus kaya. Dengan penelitian mereka menghidupi universitas. Mereka cerdik memanfaatkan potensi kampus dan menjualnya kepada dunia usaha.

--page

“Indonesia sudah lama begini dan kita sudah kuat. Yang belum adalah bagaimana penelitian itu bisa nyambung dengan kebutuhan dunia industri. Karena itu harus dimulai, hilirisasi produk penelitian kita,produk penelitian kita harus laku dijual, ini akan menghidupi kampus,” tegas dia. (ROZIQIN/B-3)