BORNEONEWS, Palangka Raya – Pembelajaran di kampus-kampus, tidak terelakkan bahwa nantinya akan berubah drastis seiring serba digitalisasi proses belajar mengajar.
Saat ini, di Kementerian Pendidikan pun masih mengandalkan berapa rasio dosen:mahasiswa dalam akreditasi kampus. Pun begitu di sekolah-sekolah, rasio guru:murid menjadi tolok ukur.
Ke depan, tidak ada lagi rasio dosen dan mahasiswa. Lalu bolehkah disebut bahwa dunia digital ini telah ‘mengusik’ tatanan belajar mengajar di perguruan tinggi? Tidak menurut Sekretaris Ditjen Kelembagaan Iptek dan Dikti, Agus Indarjo.
Menurut dia, hal itu sebagai keniscayaan. Modernisasi merupakan sebuah keniscayaan, karena dunia semakin berkembang, termasuk pesatnya dunia digital yang merambah ke semua lini, termasuk pendidikan. Justru pendidikan lah yang menyesuaikan perkembangan teknologi supaya bermanfaat.
“Lama kelamaan, nanti akan tidak berlaku lagi itu namanya rasio dosen:mahasiswa. Yang dulunya harus sekian berbanding sekian. Kenapa? Ya kita yang memang harus menyesuaikan. Bukan menafikan (pembelajaran), tetapi mahasiswa yang dituntut kemandirian,” kata Indarjo saat memberi kuliah umum di Gedung Pasca Sarjana Universitas Palangka Raya, Jumat (21/4/2018).
--page
Kemandirian mahasiswa ini antara lain, tidak lagi mahasiswa harus beli buku buku atau dituntun mengambil diktat tertentu, tetapi diarahkan untuk ‘melek’ literatur di dunia maya, akses jurnal baik nasional maupun internasional, memanfaatkan perpustakaan digital dan sebagainya.
Berikutnya, tidak lagi antara mahasiswa dan dosen selalu harus tatap muka saat kuliah, tetapi cukup lewat online di perangkat masing-masing. Ini karena semakin mudahnya akses. Penugasan atau diskusi, juga bisa via online. Serba ringkas, cepat, dan mudah.
“Mahasiswa cukup disediakan menu apa saja yng harus diakses, asal fasilitas ada kan bisa e-learning, mahasiswa bisa cukup klik e-book, jurnal, dan lainnya. Jadi, mahasiswa dituntut mandiri dalam belajar, tidak harus ketemu dosen. Jadi rasio dosen bukan lagi sebagai ukuran,”
Pelaksana tugas (Plt) Rektor UPR ini pun menekankan, semua bahan ajar sudah sedemikian mudahnya diakses di dunia digital tanpa harus tatap muka. “Dunia pendidikan yang harus adaptif terhadap perkembangan. Yang tidak cepat responsif dengan perubahan itu yang ketinggalan,” pungkasnya. (ROZIQIN/B-5)








