BORNEONEWS, Palangka Raya – Minimnya anggaran seringkali menjadi keluhan sejumlah universitas dan ini menjadi alasan kenapa kampus menjadi tidak produktif dalam hal pengembangan pendidikan.
Padahal sebetulnya hanya karena kurang kreatif dan inovatif saja dalam hal mengembangkan pola pendekatan kepada siapapun itu. Demikian ditandaskan Sekretaris Ditjen Kelembagaan Iptek dan Dikti, Agus Indarjo.
Kuncinya hanya dua hal menurut dia. Pandai menangkap peluang dan harus diikuti dengan keahlian mengemas proposal. Kedua, adalah cara mengkomunikasikannya dengan baik.
“Proposal yang bagus dan komunikasi yang baik pasti akan dilirik untuk didanai. Selama ini kan berharap uang itu turun, tidak bertindak menjemput supaya uang itu didapat. Kalau berharap uang yang datang ya susah lah,” katanya.
Pelaksana tugas (Plt) Rektor Universitas Palangka Raya (UPR) ini pun berucap sebenarnya usia UPR sudah dewasa, sudah puluhan tahun. Maka idealnya dana Pusat untuk universitas ini jumlahnya tiga kali lipat dari yang diperoleh sekarang.
--page
“Tapi kenapa belum sampai harus dievaluasi kenapanya,” ucapnya. Cara berikutnya adalah apa yang disebut mewirausahakan kampus. Bagaimana membidik kebutuhan pasar dan menangkap peluang itu harus dijawab dengan mengunggulkan hasil riset kampus.
“Kualitas riset harus dinaikkan dan semua riset harus dihilirkan, jadi produk, orientasinya adalah masuk pada kebutuhan industri dan ini akan menghasilkan uang,” bebernya. (ROZIQIN/B-6)


