BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Setelah satu jam perjalanan menggunakan pesawat Trigana Air dari Bandara Soekarno Hatta Jakarta, akhirnya Jono dan Baddy mendarat dengan selamat di Bandara Iskandar, Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Senin (23/4/2018).
Jono yaitu orangutan kalimantan (pongo Pygmaeus) saat ini berusia 20 tahun yang sejak 2012 direhabilitasi di Pusat Penyelamatan Satwa Tegal Alur (PPSTA), salah satu Lembaga Konservasi yang dikelola oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jakarta (BKSDA Jakarta), bersama Baddy satu beruang madu (helarctos malayanus) yang saat ini berusia 2 tahun, hasil sitaan oleh team Polisi Daerah Metro Jaya pada tanggal 14 April 2017 dari seorang warga, ditranslokasikan ke Orangutan Care Center and Quarantine Orangutan Foundation International (OCCQ-OFI) Desa Pasir Panjang, Pangkalan Bun.
Kedua satwa dilindungi ini antarkan dan diserahkan secara langsung oleh Kepala BKSDA Jakarta Ahmad Munawir didampingi oleh Jakarta Animal Aid Network (JAAN) founder Femke den Haas, kepada Kepala BKSDA Kalteng Adib Gunawan dan President of Orangutan Foundation International (OFI) Biruté Mary Galdikas untuk direhabilitasi dilembaganya sebelum dilepasliarkan.
"Saat Jono kita terima ketika berusia 14 sekitar tahun 2012 kondisinya memang memprihatinkan. Setelah menjalani perawatan dan rehabilitasi dalam kurun waktu 6 tahun tersebut, kita juga melakukan uji tes DNA di Pusat Laboratoriurn Penelitian - Biologi LIPI unluk memastikan jenisnya, Ujl DNA dengan sample darah mengunakan sekuen DNA gen CO I mitokondria, Jono teridentifikasi termasuk jenis Orangutan Kalimantan," jelas Kepala BKSDA Jakarta Ahmad Munawir di terminal Cargo Bandara Iskandar.
Pasalnya, lanjut Munawir, cek DNA tersebut sangat diperlukan untuk memastikan dari mana asal orangutan tersebut.
--page
"Nantinya bila kita salah menentukan asal orangutan, misalnya kita bawa ke Sumatera, maka hal tersebut dikuatirkan bakal merusak orangutan tersebut secara genetik," jelas Munawir.
Kepala BKSDA Kalteng Adib Gunawan juga menyampaikan bahwa sebelum orangutan dan beruang madu ini dilepasliarkan maka keduanya harus menjalani rehabilitasi terlebih dulu di OCCQ.
Di lokasi yang sama President of OFI Biruté Mary Galdikas menjelaskan bahwa pemulangan orangutan dan beruang madu ini ke Pangkalan Bun merupakan upaya bersama dari berbagai pihak yang peduli terhadap konservasi.
"Ada kemajuan yang saya lihat dari pemerintah Indonesia, melalui aparat yang berwenang telah turut menyelamatkan orangutan dan beruang madu ini, hingga memulangkan kembali ke Pangkalan Bun," jelas Birute. (WAHYU KRIDA/B-5)








