PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya– Ada pernyataan menarik yang disampaikan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) Pusat, Joko Supriyono, seusai melantik Pengurus Cabang Gapki Kalteng, di Kota Palangka Raya, Selasa (24/4/2018).

Joko mengatakan, kalau tidak ada sawit, tahun lalu ekonomi Indonesia sudah ambruk.

“Hasil perkebunan kepala sawit menopang cukup besar perekonomian negara kita. Tahun lalu kalau tidak ada sawit, ya ambruk ekonomi Indonesia ini,” ujarnya.

Joko mendasarkan pernyataannya dengan tolok ukur neraca ekspor-impor. Tahun lalu surplus neraca perdagangan Indonesia sebesar US$11 miliar.

“Kalau dirinci ada komoditas yang sumbang neraca positif dan sumbang negatif. Nah, kelapa sawit ini sumbang positif sebesar US$22 miliar. Kalau tahun lalu andaikan tidak ada kelapa sawit, Indonesia neracanya defisit US$11 miliar lebih,” sebut dia.

--page

Di sisi lain, Ketua Gapki Cabang Kalteng Dwi Darmawan, yang baru saja dilantik, tidak mengelak bahwa masih banyak perusahaan perkebunan kelapa sawit di Bumi Tambun Bungai sampai saat ini tidak mematuhi kewajiban plasma.

Padahal, sesuai Peraturan Menteri Pertanian (Permentan), setiap perusahaan perkebunan kelapa sawit harus menyisihkan 20% luas lahan inti untuk dibangun plasma bagi masyarakat sekitar.

Namun, dari 2007 hingga saat ini atau dalam kurun waktu 11 tahun, capaian plasma masih 11%.

Dwi Darmawan mengatakan, kewajiban membangun kebun plasma tidak bisa dipenuhi karena sejumlah alasan.

Di antaranya, Permentan tidak mengikat bagi perusahaan yang sudah berdiri sebelum 2007, serta kendala lain seperti ketersediaan lahan dan status kawasan belum beres.

--page

“Capaian (realisasi plasma) masih 11%. Tetapi itu kan tidak bisa dianggap sedikit. Aturan 20% dalam konsesi hak guna usaha (HGU) itu tidak bisa dipenuhi karena ada beberapa perusahaan yang sudah berdiri sebelum 2007 dan sudah tertanami. Mau nyari lahan di luar konsesi, lahannya gak ada,” kata dia. (ROZIQIN/B-3)