BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyatakan ekspor minyak sawit sepanjang Februari 2018 hanya sebesar 2,37 juta ton, atau terkoreksi hampir 14% dari Januari 2018 yang sebesar 2,74 juta ton.
"Melemahnya permintaan dari sejumlah negara tujuan ekspor menjadi penyebab terkoreksinya ekspor komoditas perkebunan tersebut, misalnya Amerika Serikat (AS) turun hingga 50%, India 26%, Pakistan 22%, Uni Eropa (UE) 17%, Afrika 16%, dan Bangladesh 4%," kata Wakil Ketua Umum III GAPKI Urusan Perdagangan dan Keberlanjutan, Togar Sitanggang, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (25/4/2018).
Kinerja ekspor minyak sawit pada Februari 2018 terkoreksi sekitar 14% meski pada saat yang sama, harga minyak sawit global terpantau cukup rendah atau bergerak di kisaran US$652,50 hingga US$685 per metrik ton. Pada Februari 2018, volume ekspor minyak sawit Indonesia, tidak termasuk biodiesel dan oleokimia, hanya mampu mencapai 2,37 juta ton atau turun sekitar 370.770 ton dibandingkan Januari 2018 yang tercatat mencapai 2,74 juta ton.
"Setiap tahunnya transaksi pada Februari memang lebih sedikit sehingga kinerja ekspor selalu lebih rendah dibandingkan Januari karena dipengaruhi daya beli yang rendah, hal ini lebih disebabkan adanya liburan Hari Raya Imlek. Jumlah hari pada bulan berjalan yang pendek, sehingga transaksi dagang tidak maksimal,” papar Togar.
Togar mengatakan, ekspor ke sejumlah negara tujuan utama mengalami penurunan. Penurunan yang sangat signifikan dicatatkan oleh AS, yakni hingga 50%, dari 193.470 ton pada Januari 2018 menjadi 95.990 ton pada Februari 2018.
--page
"Turunnya permintaan dari Negeri Paman Sam itu karena tingginya stok kedelai di dalam negeri negara tersebut. Penurunan permintaan diikuti oleh India yang terkoreksi 26%, Pakistan turun 22%, UE terpangkas 17%, Afrika terkoreksi 16%, dan Bangladesh turun 4%," ujarnya.
Namun demikian, pada Februari 2018 negara-negara Timur Tengah tetap mencatatkan kenaikan permintaan hingga 41%, yakni dari 148.060 ton pada Januari menjadi 209 ribu ton pada Februari.
Lonjakan permintaan dari negara-negara itu merupakan kenaikan biasa karena periode transaksi yang terlihat dari pola bulanan, apabila pada bulan sebelumnya turun maka pada bulan berikutnya akan naik.
Kenaikan permintaan minyak sawit juga berasal dari Tiongkok yang tumbuh 6% yakni dari 307.490 ton pada Januari menjadi 326.300 ton pada Februari. Kenaikan itu juga normal karena adanya perayaan Imlek.
Sementara itu, secara year on year (yoy), total volume ekspor pada Januari-Februari 2018 mencapai 5,10 juta ton atau terpangkas sekitar 3% dari periode sama 2017 yang mencapai 5,30 juta ton.
--page
Pada Februari 2018, produksi minyak sawit Indonesia juga mengalami penurunan sekitar 2%, yaitu dari 3,40 juta ton pada Januari 2018 menjadi 3,35 juta ton pada Februari 2018.








