SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengalami penurunan setiap tahunnya, terhitung sejak 2015 hingga 2018. 

"Itu patut disyukuri, karena kita terhindar dari kabut asap dan kerusakan ekosistem hutan di daerah," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim M Yusup, Kamis (26/4/2018). 

Dia menjelaskan, hal itu tidak lepas dari meningkatnya koordinasi, pengetahuan, dan keterampilan dalam menghadapi bencana. Khususnya kebakaran hutan dan lahan. 

Apalagi di daerah ini kebakaran sudah hampir menjadi musiman setiap tahunnya. Puncaknya pada 2015 silam, ada sebanyak 363 kasus karhutla, dan luasan 1.499,01 hektare lahan yang terbakar. Dampaknya, bencana kabut asap, kekeringan, dan wabah penyakit muncul.

Tak hanya pada kesehatan, ekonomi pun bergejolak, begitu juga polusi udara, pendidikan, serta kerusakan ekosistem lingkungan. 

--page

Namun berkat kerjasama yang baik antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, karhutla menurun.

Seperti pada tahun 2016 lalu, di Kotim, hanya ada 14 kasus karhutla, dengan luasan lahan yakni 637,9 hektare, dan berhasil dipadamkan seluas 12,77 hektare. 

Sedangkan pada 2017 lalu, meningkat menjadi 74 kasus, dengan luasan 293,517 hektare. Dan yang berhasil dipadamkan sebanyak 76,0204 hektare. 

"Sedangkan untuk 2018 ini, sejak awal tahun hingga April 2018 sedikitnya ada 13 kejadian kebakaran, dengan luasan 94,62 hektare. Dengan pemadaman yang berhasil dilakukan yakni 42,62 hektare," kata Yusup. 

Berbagai upaya terus dilakukan untuk mencegah karhutla. Mulai dari sosialisasi kepada masyarakat, hingga memberikan simulasi di sejumlah perusahaan perkebunan. (MUHAMMAD HAMIM/B-11)