SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Proyek Jalan Samuda-Ujung Pandaran, Kabupaten Kotawaringin banyak terdapat kubangan hingga menuai kritikan. Pasalnya proyek itu baru dikerjakan pada 2017.

Aktivis di Kotim Zulkifli yang sejak 2017 lalu melaporkan masalah jalan di kawasan itu ke Kejaksaan Negeri Kotawaringin Timur kembali menyorotinya. Bahkan, ia menilai proyek itu tanpa pengawasan.

"Parah Jalan Samuda-Ujung Pandaran memang jadi ladang Korupsi dan korporasi  tingkat dewa. Proyek tahun 2017 kemarin seperti tanpa pengawasan dari dinas terkait," cuitnya dalam akun facebooknya yang mendapat komentar beragam dari puluhan masyarakat.

Di mana dari kontrak yang di share Zukifli itu, total anggaran untuk peningkatan jalan itu tidak sedikit yakni mencapai Rp3,8 miliar. Di mana kontrak berjalan sejak 15 Juni 2017 lalu. Namun kini jalan menuju objek wisata itu kembali rusak parah.

Menurut Zulkifli, jalan yang rusak parah itu terdapat di Desa Basawang, Rege Lestari san Sei Bamban, Kecamatan Teluk Sampit. "Sepertinya jalan itu akan diperbaiki setelah ditanami padi," kata tokoh masyarakat di Kecamatan MB Ketapang, M Sopian menanggapi hal tersebut.

--page

Tidak hanya itu, Wakil Ketua DPRD Kalteng, H Heriansyah juga ikut merespon kondisi jalan itu. Bahkan secara tegas, politisi partai Gerindra ini menyatakan akan melaporkan masalah itu.

"Masuk ruas Jalan Provinsi, kita akui kualitas pekerjaannya parah 2017 yang mengerjakan tidak salah masuk group PT Akas, paket yang menang menurunkan angka jauh, anehnya dimenangkan, inilah hasilnya 2018 kita kawal ada anggarannya untuk Samuda-Ujung Pandaran semoga Rp10 miliar dalam proses tolong dikawal pelaksanaannya oleh semuanya masyarakat Kotim. Saya akan laporkan dan akan buka untuk semuanya siapa pelaksananya, trims," ujar Heriansyah dalam tanggapannya.

Akun Nataliua Natal juga berkomentar sama soal jalan tersebut. "Percuma kita punya tempat wisata ujung pandaran yang bagus, kalau akibat jalan seperti ini akhirnya bisa mengundang celaka. Apalagi jalan ini termasuk lintas penghubung dua kabupaten," katanya menyayangkan.

Kritikan para metizen itu mereka lontarkan hampir sama. Mengeluhkan kondisi jalan yang dikerjakan sebelum lebaran 2017 lalu kini sebelum lebaran 2018 kembali rusak parah. Bahkan, menyulitkan masyarakat yang melintas di jalan itu. (NACO/B-2)