BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Selama ini pelaku industri sawit selalu disudutkan dalam hal praktik berkelanjutan, padahal pihak pembeli produk sawit juga harus memiliki pemahaman yang sama tentang produk yang mereka beli, terutama yang telah menerapkan praktik berkelanjutan.
Pemahaman ini penting, sehingga tak ada lagi peritel yang 'membuang' berbegaia produk makanan, minuman atau produk lain yang berbasis minyak sawit dari rak penjualan di supermarket atau toko-toko mereka.
Para pembeli produk sawit dinilai salah dengan 'membuang' produk berbasis sawit atau tak lagi menggunakan sawit sebagai bahan baku untuk produk mereka hanya karena tak memiliki pemahaman yang sama tentang aspek berkelanjutan.
Kasus terbaru adalah jaringan supermarket di Inggris, Iceland, yang menyatakan akan menghapus minyak sawit dari produk makanan racikan mereka pada akhir 2018. Langkah itu sebagai bagian dari upaya mereduksi deforrestasi di Indonesia dan Malaysia serta membantu menjaga spesies dari ancaman kepunahan.
“Ini (langkah Iceland) hanyalah salah satu anggapan bahwa membeli minyak sawit merupakan cara yang salah,” kata Robert Nasi, direktur jenderal Center for International Forestry Research (CIFOR).
--page
Menurut Nasi, seperti dilansir Thomson Reuters Foundation, jauh lebih baik jika pihak pembeli dan konsumen dapat bekerjasama dengan lembaga dan skema berkelanjutan, seperti Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), dan kemudian memperkuat standar yang telah diterapkan.
Sejumlah perusahaan pembeli minyak sawit skala besar, seperti Nestle, Unilever dan Procter & Gamble, selama ini telah menjalankan skema skala kecil untuk mencoba dan meningkatkan praktik berkelanjutan di kalangan petani plasma sawit.
“Bekerjasama dengan para produsen minyak sawit adalah penting guna memastikan bahwa Indonesia dapat meningkatkan produksi tanpa harus memperluas lahan perkebunan dan merusak hutan,” kata Christoffer Gronstad, pakar perubahan iklim dan kehutanan di Kedutaan Norwegia di Indonesia. (NEDELYA RAMADHANI/m)








