BORNEONEWS, Palangka Raya– Ada gurat kesedihan dan kekecewaan pada mimik wajah sejumlah wanita pria (waria) saat berdiskusi dengan pengurus Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Kalteng, Senin (30/4/2018).
Kesedihan itu muncul lantaran mereka merasa didiskreditkan dalam pergaulan masyarakat maupun pemberitaan.
Di media sosial (medsos) pun demikian, seakan waria merupakan warga yang dianggap wajar untuk dicemooh. Begitupun dalam pemberitaan, dinilai kerap menyudutkan. Begitu menurut mereka.
“Pernah dijumpai, kami diberitakan dengan menulis kata manusia amfibi bahkan di judul. Loh, sebegitunya mengatain kami. Seburuk apapun kami ini masih manusia, lalu apa ada yang terganggu atau kami ganggu,” kata Monica, anggota Ikatan Waria Palangka Raya (IWAPA).
Monica pun menceritakan kisah hidupnya di salah satu provinsi di Pulau Sulawesi.
--page
Lantas apa alasan dia memilih menjadi waria? Terkait cemoohan dan pesekusi, ia dan teman-temannya di IWAPA berkomitmen saling mendukung.
Di komunitas IWAPA, mereka berupaya untuk membina diri dan berkegiatan positif dalam rangka untuk kemandirian. Monica mengakui, beberapa anggota di IWAPA memang ada yang ndableg atau keuhkeuh ketika dinasihati. Sehingga masih saja kerap mangkal di jalan yang hal itu membuat mereka terjaring aparat.
Hal ini, kata dia, karena masalah kesejahteraan saja. Karena kepepet. Sehingga cara pintas ditempuh. Di sisi lain, IWAPA masih belum bisa berbuat banyak soal pembinaan apalagi membantu kesejahteraan.
Sementara itu, pengurus PKBI Kalteng Prito, mengungkapkan bahwa pemberdayaan menjadi kunci penting agar waria mandiri. Ada kalanya yang sering terjaring aparat Satpol PP adalah bukan anggota IWAPI. Sehingga pihak komunitas pun kesulitan untuk membinanya.
“Ketika ditelusuri mereka adalah waria yang tiba-tiba datang ke kota ini, berasal dari daerah. Hanya singgah lalu hengkang lagi. Nah pas singgah dan coba mangkal, kena razia. Maka jadilah yang di Palangka Raya ini makin kena cap negatif,” kata Prito. (ROZIQIN/B-3)








